Penemuan mengejutkan dari studi terbaru menunjukkan bahwa inti Bumi berpotensi menyimpan hidrogen dalam jumlah yang sangat masif, diperkirakan setara dengan 9 hingga 45 kali volume seluruh lautan yang ada di permukaan planet ini, jika hidrogen tersebut membentuk air. Temuan ini membuka babak baru dalam pemahaman kita tentang asal-usul air dan evolusi Bumi.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah *Nature Communications* pada 10 Februari 2026 ini melibatkan simulasi kondisi ekstrem yang menyerupai fase awal pembentukan Bumi sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Para peneliti menggunakan perangkat *diamond anvil cell* untuk menciptakan tekanan dan suhu tinggi, kemudian menganalisis bagaimana hidrogen dapat terikat kuat di dalam paduan besi, material utama penyusun inti Bumi.
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa inti Bumi mampu menampung hidrogen hingga 0,36% dari total beratnya. Meskipun persentase ini terlihat kecil, mengingat ukuran inti Bumi yang sangat besar, jumlah hidrogen tersebut dapat menghasilkan volume air yang sangat fantastis. Tim yang dipimpin oleh Profesor Motohiko Murakami dari ETH Zurich menyimpulkan bahwa hidrogen kemungkinan memasuki inti Bumi sejak dini, bergerak bersama silikon dan oksigen saat bagian dalam planet terpisah menjadi beberapa lapisan.
Penemuan ini memberikan petunjuk krusial mengenai misteri asal-usul air di Bumi, sebuah topik yang selama ini menjadi perdebatan sengit di kalangan ilmuwan. Jika hidrogen dalam jumlah besar memang sudah ada sejak awal pembentukan Bumi, maka air di planet ini mungkin tidak sepenuhnya berasal dari komet atau asteroid yang menabrak Bumi pada masa awal pembentukannya.
Reservoir Air di Zona Transisi Mantel
Penemuan cadangan hidrogen di inti Bumi ini melengkapi pemahaman sebelumnya tentang keberadaan reservoir air tersembunyi di lapisan dalam Bumi lainnya. Sejak tahun 2014, para ilmuwan telah mengidentifikasi adanya samudra raksasa yang terkunci dalam batuan di zona transisi mantel Bumi, lapisan yang terletak antara 410 hingga 660 kilometer di bawah permukaan.
Air di zona transisi ini tidak berbentuk cair seperti yang kita kenal, melainkan terikat secara kimiawi sebagai ion hidroksil (OH-) dalam struktur kristal mineral langka bernama ringwoodite. Mineral ringwoodite ini bertindak seperti spons, mampu menyerap dan menyimpan air dalam jumlah besar di bawah tekanan dan suhu ekstrem. Beberapa penelitian bahkan memperkirakan volume air yang terperangkap di sana bisa mencapai tiga kali lipat dari seluruh samudra di permukaan Bumi.
Keberadaan air di zona transisi mantel ini pertama kali didukung oleh analisis berlian langka dari Brasil yang mengandung inklusi ringwoodite berair, serta didukung oleh studi seismik yang mengukur gelombang gempa bumi. Para ahli geofisika seperti Steve Jacobsen dari Northwestern University dan Brandon Schmandt dari University of New Mexico adalah tokoh kunci di balik penemuan ini.
Penemuan-penemuan ini secara kolektif merevolusi pemahaman kita tentang siklus air global Bumi, peran air dalam proses geologi seperti tektonik lempeng, dan bahkan faktor-faktor yang menjadikan planet kita layak huni. Ini menunjukkan bahwa Bumi adalah “planet air” dalam dua wajah: samudra yang terlihat di permukaan dan reservoir air tersembunyi yang masif di kedalamannya.