Impor Indonesia Melonjak 18,21% di Januari 2026, Surplus Neraca Dagang Menyusut

neraca perdagangan indonesia, impor januari 2026, bps, komoditas elektrik, komoditas mekanik

Badan Pusat Statistik () mengumumkan bahwa pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar US$0,95 miliar. Angka ini menandai surplus selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, namun jauh lebih rendah dibandingkan surplus pada Januari 2025 yang mencapai US$3,45 miliar dan Desember 2025 sebesar US$2,51 miliar.

Penyusutan surplus ini terjadi seiring dengan lonjakan nilai impor Indonesia yang signifikan. Total impor pada Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar, melonjak 18,21% secara tahunan (YoY) dibandingkan dengan US$17,94 miliar pada Januari 2025.

Kenaikan Impor Didominasi Sektor Non-Migas

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa peningkatan nilai impor secara tahunan terutama didorong oleh sektor non-migas. Impor non-migas tercatat sebesar US$18,04 miliar, naik 16,71% secara tahunan, dan memberikan andil sebesar 14,40% terhadap total kenaikan impor. Sementara itu, impor migas juga mengalami kenaikan tajam sebesar 27,52% menjadi US$3,17 miliar.

Tiga komoditas utama non-migas menjadi penopang utama nilai impor Indonesia pada awal tahun ini, menyumbang 37,54% dari total impor non-migas. Ketiga komoditas tersebut adalah mesin dan perlengkapan elektrik, mesin dan peralatan mekanik, serta plastik dan barang dari plastik. Ateng Hartono menyatakan, “Nilai impor komoditi utama ini mengalami kenaikan, baik dari sisi nilai maupun dari sisi volumenya jika dibandingkan periode yang sama atau Januari 2025.”

  • Mesin dan Perlengkapan Elektrik serta Bagiannya: Tercatat sebesar US$2,92 miliar dengan volume 0,18 juta ton.
  • Mesin dan Peralatan Mekanik serta Bagiannya: Mencapai US$2,90 miliar dengan volume 0,41 juta ton.
  • Plastik dan Barang dari Plastik: Sebesar US$0,95 miliar dengan volume 0,62 juta ton.

Berdasarkan golongan penggunaan, seluruh kategori impor mengalami peningkatan. Impor barang konsumsi naik 11,81%, impor bahan baku/penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor tumbuh 14,67% dengan andil 10,61%, dan impor barang modal melonjak 35,23%.

Asal Negara Impor dan Kinerja Ekspor

Tiongkok, Australia, dan Jepang menjadi tiga negara utama asal impor non-migas Indonesia, dengan kontribusi gabungan mencapai 54,92% dari total impor non-migas. Impor dari Tiongkok, yang mencapai US$7,89 miliar, didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik. Sementara itu, Australia menyumbang US$1,07 miliar, terutama dalam bentuk logam mulia dan perhiasan. Jepang berkontribusi US$0,95 miliar, didominasi oleh impor mesin atau peralatan mekanis.

Di sisi lain, nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar US$22,16 miliar, naik tipis 3,39% secara tahunan. Sektor non-migas membukukan surplus sebesar US$3,22 miliar, ditopang oleh komoditas seperti lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Namun, neraca perdagangan migas masih mencatat defisit sebesar US$2,27 miliar, yang disebabkan oleh impor minyak mentah, hasil minyak, dan gas.

Surplus terbesar neraca perdagangan Indonesia disumbangkan oleh perdagangan dengan Amerika Serikat (US$1,55 miliar), India (US$1,07 miliar), dan Filipina (US$0,69 miliar). Sebaliknya, defisit perdagangan terbesar tercatat dengan Tiongkok (US$2,47 miliar), Australia (US$0,96 miliar), dan Prancis (US$0,47 miliar).