Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Februari 2026 berada di level 54,02. Angka ini menunjukkan bahwa sektor industri manufaktur nasional masih berada dalam fase ekspansif, meskipun terjadi sedikit perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Capaian IKI Februari 2026 ini sedikit menurun dari posisi Januari 2026 yang mencatat rekor tertinggi. Pada Januari 2026, IKI menguat signifikan ke level 54,12, meningkat 2,22 poin dari Desember 2025. Ini merupakan level tertinggi sejak IKI pertama kali diluncurkan pada November 2022, menandakan penguatan kepercayaan pelaku industri terhadap prospek usaha.
Peningkatan IKI pada awal tahun didorong oleh stabilitas ekonomi makro dan momentum hari besar keagamaan, khususnya menjelang Ramadan dan Idulfitri. Variabel produksi melonjak ke level 54,86 pada Januari 2026 setelah mengalami kontraksi selama tujuh bulan berturut-turut. Pesanan domestik menjadi pendorong utama peningkatan kapasitas pabrik, dengan industri fokus memenuhi permintaan Februari dan Maret 2026.
Dari 23 subsektor industri pengolahan, sebanyak 20 subsektor berada pada fase ekspansi pada Januari 2026, menyumbang 94,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Industri Pengolahan Nonmigas. Sektor otomotif turut menopang kenaikan IKI di awal tahun. Selain itu, industri logam dasar serta makanan dan minuman diproyeksikan mengalami pertumbuhan permintaan yang signifikan.
Meskipun ada sedikit perlambatan di Februari, Kemenperin tetap optimistis terhadap kinerja industri manufaktur sepanjang 2026. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan, Kemenperin menargetkan pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas mencapai 5,51 persen pada 2026, meningkat dari sekitar 5,17 persen pada triwulan III 2025. Target ini didukung oleh rencana beroperasinya 1.236 perusahaan industri baru yang dibangun pada 2025, yang diperkirakan akan menyerap 218 ribu tenaga kerja.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, “Industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5% dan berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Kami optimistis kinerja ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang tahun 2026.” Kemenperin juga menargetkan rasio industri manufaktur terhadap PDB mencapai 18,56 persen pada 2026, serta proyeksi investasi sektor manufaktur mencapai Rp 852,90 triliun.
Kemenperin terus mendorong percepatan industrialisasi, transformasi industri 4.0, serta penguatan industri hulu hingga hilir. Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) diinisiasi sebagai kerangka kebijakan untuk memperkuat fondasi industri nasional secara berkelanjutan. Pasar domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan industri manufaktur nasional pada 2026, menyumbang sekitar 80 persen dari total permintaan, sementara pasar ekspor sekitar 20 persen. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah ketergantungan pada bahan baku impor.