NEW DELHI – India secara agresif memposisikan diri sebagai pusat pengembangan kecerdasan buatan (AI) berskala global, dengan target ambisius menarik investasi hingga US$200 miliar atau sekitar Rp 3.100 triliun dalam dua tahun ke depan. Komitmen ini ditegaskan dalam gelaran India AI Impact Summit 2026 yang berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, pada 19-20 Februari 2026, di mana Perdana Menteri Narendra Modi meluncurkan visi human-centric untuk teknologi tersebut.
Modi menekankan bahwa India tidak hanya ingin menjadi konsumen teknologi, melainkan arsitek utama dalam revolusi AI global. “Perjalanan kami menuju Aatmanirbhar Bharat (India Mandiri) dibangun di atas prinsip fundamental: India tidak hanya harus mengonsumsi teknologi tetapi juga menciptakannya,” ujar Modi. Ia juga menyerukan kolaborasi global, menyatakan, “Saya mengundang Anda semua untuk merancang dan mengembangkan di India, mengirimkan ke dunia, kemanusiaan.”
Visi MANAV: AI untuk Kemanusiaan
Dalam pidatonya, PM Modi memperkenalkan “Visi MANAV untuk AI”, sebuah kerangka kerja komprehensif yang berpusat pada manusia. MANAV merupakan akronim dari Moral dan Etika, Akuntabilitas Tata Kelola, Kedaulatan Nasional, Aksesibilitas dan Inklusif, serta Valid dan Sah. Visi ini bertujuan untuk memastikan bahwa AI dikembangkan dengan panduan etika, aturan yang transparan, dan pengawasan yang kuat, sambil menjamin kedaulatan data nasional.
Modi memperingatkan agar manusia tidak direduksi menjadi sekadar titik data bagi AI. “Untuk AI, manusia hanyalah titik data. Untuk memastikan bahwa manusia tidak direduksi menjadi bahan mentah belaka, AI harus didemokratisasi. Itu harus dijadikan media untuk inklusi dan pemberdayaan, terutama di Global South,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa visi ini akan menjadi “penghubung penting bagi kesejahteraan umat manusia di dunia berbasis AI abad ke-21.”
Investasi Besar dan Infrastruktur AI
Menteri Teknologi India, Ashwini Vaishnaw, mengumumkan bahwa KTT tersebut telah mengamankan komitmen investasi lebih dari US$250 miliar untuk infrastruktur AI, termasuk pusat data dan fasilitas semikonduktor. Sebelumnya, Adani Group telah berkomitmen menginvestasikan US$100 miliar untuk infrastruktur AI hingga tahun 2035, yang diharapkan dapat memicu tambahan US$150 miliar dari sektor lain, menciptakan ekosistem AI senilai US$250 miliar.
Raksasa teknologi global juga turut berinvestasi. Google mengumumkan rencana investasi US$15 miliar selama lima tahun ke depan untuk mendirikan pusat AI pertamanya di India, sementara Microsoft menyusul dengan investasi US$17,5 miliar untuk infrastruktur cloud dan AI. Selain itu, negara bagian Andhra Pradesh telah mengamankan perjanjian proyek senilai US$175 miliar untuk membangun “kota data” AI di Visakhapatnam, yang akan menjadi pusat strategis dan operasional pengembangan AI India.
Mendorong Inklusi dan Penciptaan Lapangan Kerja
Pemerintah India melalui IndiaAI Mission telah mengalokasikan ₹10.300 crore untuk memperkuat kemampuan AI, termasuk penambahan 20.000 GPU canggih untuk melengkapi 38.000 GPU yang sudah ada, dengan tarif subsidi ₹65 per jam untuk startup dan peneliti. Langkah ini diharapkan dapat menurunkan hambatan masuk bagi inovator AI di seluruh negeri.
Modi juga menyoroti potensi AI sebagai pencipta lapangan kerja, bukan penghancur. “Setiap revolusi industri selalu menciptakan lebih banyak pekerjaan daripada yang digantikannya,” kata Nara Lokesh, Menteri IT Andhra Pradesh. India, dengan lebih dari 65% populasinya di bawah usia 35 tahun, memiliki potensi besar untuk memanfaatkan dividen demografi ini dalam ekosistem AI. Antara Januari 2023 hingga Maret 2025, lowongan pekerjaan terkait AI di Asia Selatan meningkat dari 2,9% menjadi 6,5% dari total lowongan, dengan permintaan keterampilan AI tumbuh 75% lebih cepat dibandingkan peran non-AI.
Tantangan dan Kerangka Etika Global
Di tengah optimisme, PM Modi juga menyerukan konsensus global mengenai tata kelola AI, menarik paralel dengan hukum maritim internasional dan protokol energi nuklir. Ia menekankan pentingnya membangun kepercayaan dalam teknologi sejak awal, termasuk dengan label otentikasi untuk konten digital guna memerangi deepfake dan misinformasi.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memuji pendekatan India yang berfokus pada kepraktisan, aksesibilitas, dan jangkauan, serta memilih pendekatan sumber terbuka. “Di mana yang lain membebankan biaya pengguna yang besar, Anda mendukung pendekatan sumber terbuka. Inilah semangat yang membedakan India,” ujarnya. India, yang saat ini menempati peringkat ketiga secara global dalam daya saing AI, bertekad untuk menjadi salah satu dari tiga kekuatan super AI teratas dunia pada tahun 2047.