India Lirik Kembali Minyak Rusia di Tengah Krisis Iran yang Guncang Selat Hormuz

india, rusia, iran, selat hormuz, minyak mentah

Para pengelola kilang minyak negara dan pejabat pemerintah mengadakan pertemuan darurat pada akhir pekan untuk menyusun rencana kontingensi. Langkah ini diambil menyusul eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel dengan yang secara efektif mengganggu lalu lintas di , jalur vital bagi sekitar separuh impor minyak India.

Konflik yang memanas sejak 1 Maret 2026 ini, ditandai dengan serangan AS terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, serta balasan Iran berupa serangan ke negara-negara tetangga di Teluk dan ancaman penutupan Selat Hormuz. Akibatnya, Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak global atau sekitar 15-21 juta barel per hari, kini menghadapi gangguan serius. Laporan menyebutkan Garda Revolusi Iran telah memperingatkan kapal tanker, dan insiden serangan terhadap sebuah kapal tanker di dekat Oman semakin memperparah situasi, menyebabkan banyak kapal menghindari selat tersebut.

Bagi India, importir minyak terbesar ketiga di dunia, dampak krisis ini sangat signifikan. Sekitar 50% impor India, atau sekitar 2,5-2,7 juta barel per hari, serta hampir seluruh impor LPG-nya, bergantung pada Selat Hormuz. Ketergantungan ini membuat India sangat rentan terhadap gejolak di jalur pelayaran krusial tersebut.

Sebagai respons, India kini mempertimbangkan untuk kembali melirik pasokan minyak mentah dari Rusia. Opsi ini mencakup pemanfaatan kargo minyak Rusia yang saat ini berada di perairan Asia, yang dapat berfungsi sebagai ‘katup pengaman’ jika krisis berkepanjangan. Padahal, dalam beberapa bulan terakhir, India telah mengurangi impor minyak Rusia secara signifikan, dari puncaknya sekitar 2 juta barel per hari pada 2024-2025 menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari pada Februari 2026, level terendah sejak November 2022. Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh tekanan Amerika Serikat dan kesepakatan perdagangan sementara AS-India yang mengharapkan India mengurangi ketergantungan pada minyak Rusia. Namun, keputusan Mahkamah Agung AS baru-baru ini mengenai kewenangan tarif Presiden Donald Trump telah menciptakan ketidakpastian, yang mungkin memberi India ruang manuver lebih besar.

Di pasar global, harga minyak mentah Brent melonjak hingga 13% pada perdagangan awal Senin (2 Maret 2026), mencapai $82 per barel, level tertinggi dalam 14 bulan terakhir. Analis memprediksi harga dapat mencapai $85-90, bahkan melampaui $100 jika penutupan Selat Hormuz berlanjut. Organisasi negara-negara pengekspor minyak, OPEC+, pada 2 Maret 2026, menyetujui peningkatan produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk April, sebuah angka yang mengejutkan analis yang mengharapkan respons lebih besar mengingat skala konflik.

Meskipun demikian, India memiliki cadangan minyak mentah yang cukup untuk sekitar 10 hari dan stok bahan bakar untuk 5-7 hari. Selain itu, Cadangan Minyak Strategis (SPRs) India dapat menutupi kebutuhan impor bersih hingga 74 hari. India juga tengah menjajaki diversifikasi pasokan dengan meningkatkan alokasi dari Pipa Timur-Barat Arab Saudi dan Pipa Minyak Mentah Abu Dhabi Uni Emirat Arab, yang keduanya menghindari Selat Hormuz. Pasokan dari Venezuela, Afrika Barat, dan Brasil juga menjadi alternatif yang dipercepat.

Namun, kerentanan terbesar India terletak pada pasokan LPG, yang hampir seluruhnya bergantung pada negara-negara Teluk melalui Selat Hormuz, dengan sedikit alternatif yang tersedia. Sementara itu, Rusia terus menawarkan diskon signifikan untuk minyak mentah Urals-nya, mencapai $15-20 per barel di bawah Brent pada Februari 2026, menjadikannya pilihan ekonomis yang menarik. China, sebagai importir minyak mentah Iran terbesar dan juga sangat bergantung pada Selat Hormuz, juga akan bersaing di pasar global untuk mencari pasokan pengganti, yang berpotensi semakin mendorong kenaikan harga.