Indonesia Amankan Tarif 0% untuk 1.819 Produk di Pasar AS, Tekstil hingga Elektronik

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

agreement on reciprocal trade, ekspor indonesia, amerika serikat, tarif bea masuk, airlangga hartarto

Pemerintah Indonesia dan (AS) telah menorehkan babak baru dalam hubungan ekonomi bilateral dengan penandatanganan resmi (ART) atau Perjanjian Dagang Timbal Balik. Kesepakatan bersejarah ini membuka jalan bagi 1.819 pos tarif produk unggulan Indonesia untuk menikmati bea masuk nol persen ke pasar Negeri Paman Sam. Penandatanganan dokumen penting ini berlangsung di Washington D.C., Amerika Serikat, pada Kamis, 19 Februari 2026, waktu setempat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menjelaskan bahwa perjanjian ini merupakan hasil negosiasi intensif yang telah berlangsung sejak April 2025. Awalnya, AS menerapkan tarif resiprokal sebesar 32% untuk produk Indonesia, yang kemudian berhasil diturunkan menjadi 19% melalui Joint Statement pada Juli 2025. Namun, dalam ART ini, Indonesia berhasil mengamankan tarif 0% untuk ribuan komoditas strategis.

Daftar Produk Unggulan dengan Tarif Nol Persen

Dalam perjanjian ART, sejumlah komoditas pertanian dan industri Indonesia kini dapat masuk ke pasar AS tanpa bea masuk. Airlangga Hartarto merinci produk-produk tersebut. “Dalam ART ini ada 1.819 pos tarif produk Indonesia baik itu pertanian maupun industri antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, yang tarifnya adalah 0%,” tegas Airlangga dalam konferensi pers daring pada Jumat, 20 Februari 2026.

Sektor tekstil dan pakaian jadi (apparel) juga menjadi penerima manfaat signifikan. Produk tekstil Indonesia akan dikenakan bea masuk nol persen melalui mekanisme Tariff-Rate Quota (TRQ). Volume kuota ini akan ditentukan berdasarkan jumlah ekspor tekstil Indonesia yang menggunakan kapas dan bahan baku serat buatan asal Amerika Serikat. Kebijakan ini diperkirakan akan memberikan dampak positif bagi sekitar 4 juta pekerja di sektor tekstil nasional, dan jika dihitung bersama anggota keluarga, akan memengaruhi sekitar 20 juta masyarakat Indonesia.

Komitmen Timbal Balik Indonesia

Sebagai bagian dari kesepakatan timbal balik, Indonesia juga berkomitmen untuk menghapus hambatan tarif pada lebih dari 99% produk AS yang diekspor ke Indonesia di berbagai sektor, termasuk produk pertanian, kesehatan, makanan laut, teknologi informasi dan komunikasi, otomotif, dan bahan kimia. Indonesia juga akan memberikan fasilitas tarif nol persen untuk komoditas pertanian utama AS seperti kedelai dan gandum. “Jadi masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat,” tambah Airlangga.

Selain itu, Indonesia akan mengatasi berbagai hambatan non-tarif, menerima standar produk AS untuk keselamatan kendaraan, emisi, alat kesehatan, dan farmasi, serta memfasilitasi investasi AS di sektor mineral kritis dan sumber daya energi. Kesepakatan ini juga mencakup penghapusan bea masuk atas transaksi elektronik sesuai dengan posisi kedua negara dalam forum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Optimisme Peningkatan Ekspor dan Aliansi Strategis

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan optimisme bahwa ke AS akan meningkat signifikan pasca-penandatanganan ART. “Harapan kita naik ya, target kita naik, harus naik. Karena kan begini, sekarang kan sudah beberapa komoditas 0 persen, komoditas unggulan kita itu yang bisa masuk ke sana. Nah otomatis seharusnya naik dong,” ujar Budi di Jakarta. Ia berharap proses ratifikasi perjanjian ini dapat rampung tahun ini, sehingga implementasinya dapat segera berjalan dalam 90 hari setelah ratifikasi.

Penandatanganan ART ini juga disaksikan oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang turut menandatangani dokumen berjudul “Implementation of the Agreement Toward a NEW GOLDEN AGE for the U.S.-Indonesian Alliance”. Dokumen ini menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat keamanan ekonomi, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan secara berkelanjutan memimpin menuju kemakmuran global. Sebelumnya, pada Business Summit di Washington D.C., perusahaan-perusahaan Indonesia dan AS juga telah menandatangani 11 Nota Kesepahaman (MoU) senilai 38,4 miliar dolar AS terkait perdagangan, energi, dan pertanian.

Airlangga Hartarto menegaskan bahwa perjanjian ini menghormati kedaulatan kedua negara dan merupakan kesepakatan yang saling menguntungkan. Pada periode Januari-Desember 2025, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tercatat sebesar 30,96 miliar dolar AS, sementara impor dari AS mencapai 9,84 miliar dolar AS, menghasilkan surplus perdagangan bagi Indonesia sebesar 21,12 miliar dolar AS. Dengan adanya ART, diharapkan volume perdagangan dan investasi antara kedua negara akan semakin meningkat, memperkuat posisi Indonesia di pasar global.