Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara dan rudal gabungan terhadap sejumlah target strategis di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Operasi militer yang dinamai “Operation Lion’s Roar” oleh Israel dan “Operation Epic Fury” oleh Departemen Pertahanan AS ini menargetkan pangkalan militer, fasilitas pertahanan, serta struktur kepemimpinan Iran. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran yang meluncurkan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, serta negara-negara sekutu di Teluk.
Insiden ini dilaporkan menewaskan sekitar 201 orang dan melukai 747 lainnya di berbagai provinsi Iran, termasuk insiden tragis yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Minab. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, juga dilaporkan meninggal dunia dalam serangan tersebut, yang kemudian diikuti dengan pengumuman masa berkabung nasional selama 40 hari oleh Iran.
Indonesia Menyesalkan Eskalasi dan Tawarkan Mediasi
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI), menyatakan penyesalan mendalam atas gagalnya perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa pada Jumat, 27 Februari 2026, yang berujung pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Kemlu RI menyerukan semua pihak untuk menahan diri serta mengedepankan dialog dan diplomasi dalam menyelesaikan perbedaan.
Dalam respons diplomatik yang signifikan, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan kesiapan Indonesia untuk memfasilitasi dialog guna menciptakan kembali kondisi keamanan yang kondusif. Bahkan, Presiden Prabowo menegaskan kesediaannya untuk bertolak langsung ke Teheran, Iran, guna melakukan mediasi apabila disetujui oleh kedua belah pihak. Langkah ini disebut sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif dalam menjaga perdamaian dunia.
Menanggapi tawaran mediasi ini, pakar hukum internasional dari Universitas Jambi, Akbar Kurnia Putra, menilai bahwa ini merupakan “langkah diplomasi yang cukup berani”. Namun, ia juga mengingatkan adanya risiko diplomatik jika Indonesia gagal menjaga netralitasnya. Sementara itu, pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran (Unpad), Teuku Rezasyah, berpendapat bahwa Iran kemungkinan akan menilai respons Indonesia terlalu lunak karena tidak secara eksplisit menyinggung pelanggaran Piagam PBB oleh AS dalam serangannya.
Dampak Global dan Ekonomi Indonesia
Eskalasi konflik ini dinilai membuka fase konfrontasi baru di Timur Tengah dan berpotensi memicu krisis global yang lebih luas. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan bahwa salah satu dampak langsung bagi Indonesia adalah lonjakan harga minyak dunia. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak mentah akan langsung mendongkrak biaya impor BBM dan LPG, yang berpotensi menggerus surplus neraca perdagangan dan mendorong inflasi.
Selain itu, konflik ini juga mengancam rantai pasok global dan logistik. Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz oleh Iran, yang merupakan jalur vital bagi 21-30 persen pasokan minyak dunia, akan secara signifikan meningkatkan biaya pengapalan (freight) dan premi asuransi. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi, sementara nilai tukar rupiah berpotensi melemah menuju Rp 17.000 per dolar AS.
Di tengah ketidakpastian ini, aset-aset safe haven seperti emas diperkirakan akan mengalami lonjakan harga. Analis Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia bisa mencapai US$6.000 per troy ounce pada akhir kuartal I 2026, dengan harga emas Antam berpotensi menyentuh Rp 3,5 juta per gram. Saham-saham berbasis komoditas, termasuk PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), juga dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global.
Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISI) berpandangan bahwa Indonesia perlu memperkuat kesiapan strategis tanpa terjebak dalam rivalitas kekuatan besar, dengan tetap menjadikan politik luar negeri bebas dan aktif sebagai pijakan utama. Fokus keterlibatan Indonesia di Timur Tengah harus diarahkan pada upaya perdamaian dan misi kemanusiaan. Pemerintah juga mengimbau Warga Negara Indonesia (WNI) di wilayah terdampak untuk tetap tenang, waspada, mengikuti arahan otoritas setempat, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat.
Dampak Lainnya
Di sektor olahraga, Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, menyatakan bahwa Iran “kemungkinan besar” tidak akan berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, akibat konflik yang sedang berlangsung.