Inflasi Februari 2026 Diproyeksi Melonjak, Bank Indonesia Soroti Dampak Ramadan

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

inflasi indonesia, ramadan 2026, bank indonesia, harga pangan, bps

Laju inflasi tahunan Indonesia pada Februari 2026 diproyeksikan mengalami akselerasi signifikan, berpotensi menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu hampir tiga tahun terakhir. Peningkatan ini utamanya didorong oleh faktor musiman menjelang bulan suci Ramadan serta efek basis rendah dari kebijakan tahun sebelumnya. Badan Pusat Statistik () dijadwalkan akan mengumumkan data inflasi resmi untuk Februari pada awal pekan depan, Senin, 2 Maret 2026.

Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memproyeksikan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) Februari berada di angka 0,3%. Sementara itu, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) lebih jauh memproyeksikan inflasi tahunan (year-on-year/YoY) Februari 2026 akan berada di kisaran 3,64% hingga 3,92%. Angka ini melampaui realisasi inflasi Januari 2026 yang tercatat sebesar 3,55% (YoY), yang kala itu sudah menjadi level tertinggi sejak Mei 2023.

Deputi Gubernur (BI), Aida S. Budiman, menjelaskan bahwa tekanan inflasi yang tinggi pada awal tahun ini sebagian besar disebabkan oleh efek basis rendah dari diskon tarif listrik yang diberikan pemerintah pada Januari dan Februari 2025, yang dampaknya masih terasa hingga Maret 2026. Selain itu, ekspektasi kenaikan harga menjelang Ramadan 1447 H turut menjadi pendorong utama. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Februari 2026 tercatat sebesar 168,6, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 163,2.

Lonjakan harga komoditas pangan menjadi kontributor utama tekanan inflasi. Pusat Informasi Strategis (PIHPS) Bank Indonesia mencatat kenaikan harga beras di mayoritas provinsi sepanjang Februari, dengan Banten (3,01%) mencatat kenaikan tertinggi. Harga daging ayam ras juga melonjak di sebagian besar wilayah, mencapai 13,64% di Kalimantan Utara. Demikian pula dengan telur ayam ras, yang harganya naik signifikan di banyak provinsi, dengan Yogyakarta (12,5%) mengalami kenaikan tertinggi.

Namun, komoditas cabai disebut-sebut sebagai ‘bintang’ inflasi kali ini karena kenaikan harganya yang sangat tajam. Cabai merah mengalami kenaikan ekstrem di Sulawesi Utara (83,02%), Sulawesi Barat (52,52%), Gorontalo (47,37%), dan Bali (46,78%). Cabai rawit juga menunjukkan tren kenaikan yang kuat, bahkan mencapai Rp82.000 per kilogram di Pasar Johar Semarang pada akhir Februari. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengakui bahwa harga cabai memang sulit dikontrol karena pengaruh cuaca ekstrem.

Menyikapi kondisi ini, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 18-19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengendalikan inflasi. Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman memastikan bahwa pasokan pangan tetap terjaga seiring berlangsungnya musim panen hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit. Selain itu, pemerintah juga menggulirkan stimulus fiskal menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. BI juga telah meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) untuk memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan pasokan dan kelancaran distribusi.

Meskipun tekanan inflasi diperkirakan meningkat pada Februari dan awal Ramadan, Bank Indonesia optimistis inflasi sepanjang tahun 2026 akan tetap terjaga dalam kisaran target 2,5% ± 1%. Upaya pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) serta kementerian terkait.