Inflasi Februari 2026 Melonjak ke 4,76 Persen, Harga Pangan dan Listrik Jadi Pemicu Utama

inflasi indonesia, bps, harga pangan, bank indonesia, biaya hidup

Badan Pusat Statistik () mengumumkan bahwa inflasi tahunan Indonesia pada Februari 2026 mencapai 4,76 persen (year-on-year/yoy), meningkat signifikan dari 3,55 persen pada Januari 2026. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Maret 2023. Kenaikan ini terutama dipicu oleh efek basis rendah dari kebijakan diskon tarif listrik pada awal 2025, serta lonjakan menjelang bulan Ramadan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers pada Senin (2/3/2026), menjelaskan bahwa secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 0,68 persen, berbalik arah dari deflasi 0,15 persen pada Januari 2026. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 0,53 persen.

Penyumbang Utama Inflasi: Perumahan dan Pangan

Ateng Hartono memaparkan, pendorong utama inflasi tahunan Februari 2026 adalah kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, yang mengalami inflasi sebesar 16,19 persen dengan andil 2,26 persen terhadap inflasi nasional. Kenaikan ini disebabkan oleh tarif listrik yang pada Januari dan Februari 2025 sempat mendapatkan diskon dari pemerintah, sehingga menciptakan basis perbandingan yang rendah di tahun ini.

Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan inflasi 1,54 persen dan andil 0,45 persen. Komoditas pangan yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini meliputi daging ayam ras dengan andil 0,09 persen, cabai rawit 0,08 persen, ikan segar 0,05 persen, cabai merah 0,04 persen, serta tomat, beras, dan telur ayam ras masing-masing 0,02 persen. Emas perhiasan juga turut menyumbang inflasi sebesar 0,19 persen, diikuti tarif angkutan udara 0,02 persen.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami deflasi, seperti bensin yang memberikan andil deflasi sebesar 0,05 persen pada Februari 2026.

Sebaran Inflasi di Daerah dan Proyeksi ke Depan

Secara geografis, BPS mencatat 33 provinsi mengalami inflasi bulanan pada Februari 2026, sementara 5 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Selatan sebesar 1,04 persen, sedangkan deflasi terdalam tercatat di Papua Barat sebesar 0,65 persen. Untuk inflasi tahunan, seluruh 38 provinsi di Indonesia mengalami inflasi, dengan Aceh mencatat laju tertinggi sebesar 6,94 persen dan Papua Pegunungan terendah sebesar 0,63 persen.

Meskipun inflasi Februari 2026 berada di atas target (BI) yang sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen, pemerintah dan BI optimis tekanan inflasi ini bersifat sementara. Kementerian Keuangan memproyeksikan inflasi akan kembali normal pada Maret 2026. Bank Indonesia juga meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen hingga akhir 2026 dan 2027.

Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan bahwa BI akan terus memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan makroprudensial. Sementara itu, pemerintah dan Bank Indonesia terus memperkuat sinergi untuk mengendalikan inflasi, khususnya inflasi pangan, agar tetap berada dalam kisaran 3-5 persen melalui penguatan pasokan dan kelancaran distribusi. Kebijakan suku bunga acuan BI-Rate sendiri dipertahankan pada level 4,75 persen per Januari dan Februari 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mendukung pencapaian sasaran inflasi.