Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi tahunan Indonesia pada Februari 2026 mencapai 4,76% secara year-on-year (yoy). Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak Maret 2023.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (2/3/2026), menjelaskan bahwa inflasi bulanan (month-to-month/mtm) tercatat sebesar 0,68% dan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 0,53%. Indeks Harga Konsumen (IHK) juga mengalami kenaikan, dari 109,75 pada Januari 2026 menjadi 110,50 pada Februari 2026.
Kenaikan inflasi tahunan ini berbalik arah drastis jika dibandingkan dengan Februari 2025 yang justru mencatat deflasi 0,09% atau 0,48%. Ateng Hartono menyoroti bahwa inflasi bulanan Februari 2026 yang sebesar 0,68% juga lebih tinggi dari deflasi 0,48% pada Februari 2025 dan deflasi 0,15% pada Januari 2026.
Penyebab Utama Inflasi: Harga Pangan dan Efek Basis Rendah
Penyumbang terbesar inflasi bulanan pada Februari 2026 berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang mengalami inflasi 1,54% dengan andil sebesar 0,45%. Komoditas pangan yang paling dominan mendorong inflasi di kelompok ini antara lain daging ayam ras dengan andil 0,09%, cabai rawit 0,08%, ikan segar 0,05%, cabai merah 0,04%, serta tomat, beras, dan telur ayam ras masing-masing 0,02%.
Selain itu, komoditas lain yang turut memberikan andil inflasi signifikan adalah emas perhiasan sebesar 0,19% dan tarif angkutan udara sebesar 0,02%.
Secara komponen, inflasi Februari 2026 utamanya didorong oleh komponen harga bergejolak (volatile food) yang mengalami inflasi 2,50% dan memberikan andil 0,41%. Komponen inti (core inflation) juga mengalami inflasi 0,42% dengan andil 0,27%, didorong oleh emas perhiasan, minyak goreng, mobil, dan nasi dengan lauk.
Di sisi lain, komponen harga yang diatur pemerintah (administered price) justru mengalami deflasi sebesar 0,03%, dengan bensin menjadi komoditas dominan yang menahan laju kenaikan harga.
Dampak Ramadan dan Efek Basis Rendah
Kenaikan inflasi ini sejalan dengan peningkatan permintaan dan harga pangan menjelang bulan suci Ramadan. Bank Indonesia (BI) sebelumnya juga telah memprakirakan adanya peningkatan tekanan inflasi pada Februari 2026, yang tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) yang lebih tinggi, didorong oleh ekspektasi kenaikan harga menjelang Ramadan 1447 H.
Faktor lain yang turut memengaruhi tingginya inflasi tahunan adalah efek basis rendah (low base effect). Pada Januari hingga Februari 2025, pemerintah menerapkan diskon tarif listrik secara masif yang menekan IHK di bawah tren normal. Kebijakan diskon ini tidak berlanjut pada awal 2026, sehingga secara statistik inflasi tahunan terlihat lebih tinggi meskipun dinamika harga sesungguhnya relatif sejalan dengan tren fundamental.
Dari 38 provinsi di Indonesia, 33 provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi secara tahunan tercatat di Aceh sebesar 6,94%, sementara inflasi bulanan tertinggi di Sulawesi Selatan sebesar 1,04%. Lima provinsi lainnya mencatat deflasi, dengan deflasi terendah di Papua Pegunungan sebesar 0,63% secara tahunan dan Papua Barat sebesar 0,65% secara bulanan.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%. Keputusan ini konsisten dengan upaya penguatan stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 yang berada dalam kisaran 2,5% ±1%.