Pergerakan investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pola yang kontras pada akhir Februari hingga awal Maret 2026. Data perdagangan mencatat adanya aksi beli bersih (net buy) yang signifikan pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru menjadi sasaran jual bersih (net sell) oleh investor global.
Dalam periode 23-27 Februari 2026, investor asing tercatat melakukan beli bersih saham BBRI senilai Rp 1,08 triliun, menjadikannya saham yang paling banyak diborong. Sejalan dengan itu, harga saham BBRI menguat 1,82% mencapai level Rp 3.910 per saham. Tak hanya BBRI, saham BMRI juga menjadi incaran utama dengan net buy mencapai Rp 880,36 miliar pada periode yang sama. Sebelumnya, pada 23 Februari 2026, BBRI dan BMRI juga menjadi target utama beli bersih asing dengan masing-masing Rp 393,52 miliar dan Rp 330,61 miliar.
Di sisi lain, saham BBCA mengalami tekanan jual dari investor asing. Sepanjang 23-27 Februari 2026, BBCA mencatatkan net sell sebesar Rp 405,92 miliar. Bahkan, pada penutupan perdagangan 24 Februari 2026, saham BBCA diperdagangkan di level Rp 7.250 per saham, melemah 9,1% sepanjang tahun berjalan. Meskipun demikian, Panin Sekuritas dalam risetnya pada 6 Februari 2026 mempertahankan rekomendasi beli untuk BBCA dengan target harga Rp 10.000 per saham, didukung oleh laba bersih yang konsisten sebesar Rp 57,5 triliun pada tahun 2025 (tumbuh 4,9% secara tahunan), dominasi dana pihak ketiga (CASA), dan kualitas aset yang membaik.
Analis melihat fenomena kontras ini sebagai bagian dari rotasi portofolio investor asing. Managing Director Solstice Indonesia, Handiman, pada 24 Februari 2026, menjelaskan bahwa investor kemungkinan melakukan rotasi dari saham bervaluasi tinggi dan mencari peluang di saham dengan valuasi lebih menarik. Selain itu, antisipasi pembagian dividen juga menjadi faktor pendorong, di mana imbal hasil dividen bank-bank pelat merah bisa mencapai 7%-9%, sementara BBCA hanya di kisaran 3%. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa BBCA memiliki bobot terbesar dalam indeks global serta tingkat kepemilikan asing yang tinggi, sehingga sering menjadi sumber likuiditas utama untuk dilepas ketika terjadi penyesuaian alokasi dana global.
Secara keseluruhan, pasar perbankan diproyeksikan memasuki fase pemulihan pada tahun 2026 setelah periode yang lesu. Sejumlah analis menilai, potensi penurunan suku bunga akan menjadi sentimen utama yang mendorong perbaikan kinerja saham maupun fundamental bank. Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, pada 24 Desember 2025, menyebutkan bahwa penurunan suku bunga dapat meningkatkan margin bunga bersih (NIM) bank karena penurunan cost of fund yang lebih cepat dibandingkan penyesuaian bunga kredit. Valuasi saham empat bank besar (BBCA, BMRI, BBRI, BBNI) berpotensi pulih pada 2026, didorong oleh perbaikan laba bersih, potensi yield dividen yang menarik, dan kembalinya arus dana asing ke Indonesia.
Bank Indonesia (BI) sendiri akan mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi, termasuk menyiapkan strategi baru untuk memantau modal asing per Maret 2026. Masyarakat dapat mengakses data perkembangan transaksi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) melalui situs web resmi BI, sementara rincian aliran modal asing di sektor saham tersedia melalui situs web Bursa Efek Indonesia (BEI).