Jumlah investor di pasar modal Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan, melampaui 21 juta Single Investor Identification (SID) per akhir Januari 2026. Angka ini mencerminkan peningkatan minat masyarakat dalam berinvestasi, meskipun pasar sempat diwarnai gejolak dan upaya reformasi yang terus digulirkan oleh otoritas.
Data terbaru menunjukkan bahwa total investor pasar modal Indonesia mencapai 21.037.426 SID pada akhir Januari 2026. Jumlah ini bertambah 673.218 SID dibandingkan posisi akhir 2025 yang tercatat sebanyak 20.364.208 SID. Sepanjang tahun 2025 sendiri, jumlah investor pasar modal telah mengalami pertumbuhan sebesar 5.492.569 SID. Khusus untuk investor saham, jumlahnya kini mendekati 9 juta SID, tepatnya 8.980.318 SID, meningkat 367.958 SID dari akhir 2025.
Dinamika IHSG dan Kapitalisasi Pasar
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2026 menunjukkan dinamika yang bervariasi. Pada penutupan 30 Januari 2026, IHSG melemah 6,94% ke level 8.329,606 dari posisi 8.951,010 pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengalami koreksi sebesar 7,37%, menjadi Rp15.046 triliun dari Rp16.244 triliun pada periode yang sama. Investor asing mencatatkan nilai jual bersih Rp1,53 triliun pada 30 Januari 2026, dengan akumulasi nilai jual bersih sepanjang 2026 mencapai Rp9,88 triliun.
Gejolak pasar sempat terjadi pada akhir Januari 2026 ketika Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pembekuan sementara penilaian indeks terkait saham Indonesia karena isu transparansi data. Hal ini menyebabkan IHSG anjlok 7,35% pada 28 Januari 2026 dan kembali turun 1,06% pada 29 Januari 2026. Bahkan, pada 19 Februari 2026, IHSG kembali ditutup melemah 0,43% ke level 8.274,08 setelah Bank Indonesia menahan suku bunga acuan.
Meskipun demikian, optimisme terhadap pasar modal Indonesia tetap tinggi. Analis memproyeksikan IHSG dapat menembus level 9.300 hingga 10.000 pada tahun 2026. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia bahkan menargetkan IHSG di level 10.500, didukung ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan potensi kebijakan akomodatif. HSBC juga menempatkan Indonesia di kategori Overweight dengan potensi kenaikan indeks sebesar 12,9% pada 2026, menargetkan IHSG mencapai 9.450.
Reformasi Pasar Modal untuk Transparansi dan Likuiditas
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menggenjot reformasi pasar modal untuk memperkuat likuiditas, meningkatkan transparansi, dan menjaga kepercayaan investor. Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memaparkan bahwa negosiasi dengan penyedia indeks global seperti FTSE Russell dan MSCI telah memasuki tahap akhir.
Beberapa isu strategis yang menjadi fokus reformasi meliputi: peningkatan ketentuan minimum free float emiten menjadi 15% dari sebelumnya 7,5%, perluasan pengungkapan kepemilikan saham dari di atas 5% menjadi di atas 1%, serta granularisasi kategori investor di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dari 9 menjadi 28 subkategori. Peraturan pencatatan terkait kewajiban free float minimum 15% telah memasuki tahap rule making rule per 19 Februari 2026 dan akan diajukan ke OJK setelah finalisasi internal. Revisi Peraturan Bursa Nomor I-A yang mencakup kebijakan ini direncanakan efektif mulai Maret 2026.
Selain itu, OJK juga akan menyiapkan notasi khusus bagi emiten yang belum memenuhi ketentuan minimum free float 15%. Notasi ini berfungsi sebagai penanda bagi investor, bukan sanksi, untuk memudahkan pemilihan saham. Jeffrey Hendrik menambahkan, BEI juga akan mengevaluasi sistem perdagangan saham dengan skema Full Call Auction (FCA) pada kuartal II-2026 sebagai bagian dari agenda reformasi.
Prospek dan Rekomendasi Investasi
Meskipun ada fluktuasi, OJK meminta investor pasar modal Indonesia untuk tetap optimistis dan tidak panik. Pasar modal Indonesia diproyeksikan menjadi primadona di Asia pada 2026, didukung oleh aliran dana asing yang masuk seiring prediksi pelemahan dolar AS dan penyesuaian alokasi investor global ke emerging markets.
Sektor-sektor yang diperkirakan menjadi pendorong utama IHSG antara lain keuangan, konsumsi, teknologi, dan komoditas seperti batu bara, nikel, timah, dan emas. Investor ritel saat ini mendominasi lebih dari 50% transaksi pasar modal, menunjukkan peran yang semakin besar dari investor domestik. Untuk strategi investasi, diversifikasi portofolio dengan alokasi sekitar 40% pada saham, 30%-40% pada emas, serta 20%-30% pada obligasi disarankan untuk menjaga keseimbangan risiko dan peluang imbal hasil.