Teheran mengeluarkan peringatan keras pada Sabtu, 14 Maret 2026, bahwa mereka akan menargetkan fasilitas minyak dan energi yang terafiliasi dengan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Ancaman ini muncul sebagai respons langsung setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan serangan udara yang menghancurkan target militer di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Pernyataan militer Iran, yang dikutip oleh media setempat, menegaskan bahwa infrastruktur minyak dan energi milik perusahaan yang bekerja sama dengan AS akan “segera dihancurkan dan menjadi tumpukan abu” jika fasilitas energi Iran diserang. Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Komando Khatam al-Anbiya, menyampaikan ancaman ini pada Sabtu pagi, secara spesifik menargetkan “semua infrastruktur minyak, ekonomi, dan energi milik perusahaan minyak di seluruh wilayah yang memiliki saham Amerika atau bekerja sama dengan Amerika.”
Sebelumnya, Presiden Trump pada Jumat (13 Maret 2026) mengklaim bahwa pasukan AS telah “memusnahkan” target militer di Pulau Kharg. Meskipun demikian, Trump menyatakan bahwa ia “memilih untuk tidak menghancurkan infrastruktur minyak” di pulau tersebut. Namun, ia memperingatkan akan “segera mempertimbangkan kembali keputusan ini” jika Iran atau pihak lain mengganggu “Jalur Bebas dan Aman Kapal melalui Selat Hormuz.” Pulau Kharg sendiri merupakan terminal utama yang menangani sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran.
Eskalasi ketegangan ini terjadi di tengah konflik yang memanas di Timur Tengah, di mana serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran telah berlangsung sejak 28 Februari 2026. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS. Bahkan, pada Sabtu ini, sebuah rudal dilaporkan menghantam helipad di dalam kompleks Kedutaan Besar AS di Baghdad.
Situasi ini juga diperparah dengan tindakan Iran yang secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia, dengan mengancam lalu lintas pelayaran. Penutupan ini telah menyebabkan lonjakan signifikan harga minyak global, dari sekitar $71 menjadi lebih dari $100 per barel. Sekretaris Dalam Negeri AS Doug Burgum menyatakan bahwa AS dapat menyediakan pasokan energi “andal” ke Asia-Pasifik di tengah perang Timur Tengah.
Ancaman dari Iran bukan kali ini saja terjadi. Pada Kamis (12 Maret 2026), Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf telah memperingatkan bahwa serangan terhadap pulau-pulau Iran akan membuat Teheran “mengabaikan semua pengekangan” dan akan membuat Teluk Persia “berlumuran darah para penyerbu.” Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, juga mengancam akan melanjutkan serangan terhadap aset militer AS dan Israel di Timur Tengah kecuali pangkalan-pangkalan yang menampung pasukan AS di wilayah tersebut ditutup.
Di sisi lain, AS juga telah mendesak Israel untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Langkah ini diambil dengan beberapa pertimbangan, termasuk tujuan untuk bekerja sama dengan sektor minyak Iran pasca-perang, kekhawatiran akan merugikan publik Iran, dan potensi memicu serangan balasan besar-besaran terhadap negara-negara Teluk. Kedutaan Besar AS di Baghdad sendiri telah memperbarui peringatan keamanan Level 4 untuk Irak pada Jumat, mengingatkan akan potensi serangan terhadap warga, kepentingan, dan infrastruktur penting AS oleh kelompok-kelompok yang didukung Iran.
Dampak konflik ini juga terasa di negara-negara produsen energi Teluk lainnya. Beberapa perusahaan besar seperti QatarEnergy, Bahrain Petroleum Company (BAPCO), Kuwait Petroleum Corporation (KPC), dan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) terpaksa menghentikan atau mengurangi produksi menyusul serangan Iran terhadap fasilitas energi mereka.