Teheran secara resmi mengonfirmasi kematian Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, yang gugur akibat serangan udara Israel pada Selasa, 17 Maret 2026. Kabar duka ini disampaikan oleh media pemerintah Iran dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) beberapa jam setelah Israel mengklaim telah melenyapkan tokoh penting tersebut.
Serangan yang menewaskan Larijani terjadi pada malam hari antara 16 dan 17 Maret 2026, di dekat Teheran. Selain Larijani, putranya, Morteza, kepala kantornya Alireza Bayat (atau Reza Bayat), serta beberapa pengawalnya juga dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sebelumnya telah mengumumkan bahwa Larijani telah “dilenyapkan” dalam serangan tersebut. Kematian Larijani menandai kehilangan besar bagi kepemimpinan Iran, menjadikannya pejabat paling senior yang tewas dalam konflik yang sedang berlangsung, menyusul gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026.
Ali Larijani dikenal sebagai sosok sentral dalam politik Iran, yang pernah menjabat sebagai Ketua Parlemen (2008-2020) dan negosiator nuklir utama Iran (2005-2007). Ia juga pernah memimpin Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB) dan menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam. Setelah kematian Khamenei, Larijani disebut-sebut sebagai salah satu figur paling berpengaruh, bahkan dianggap sebagai “pemimpin de facto” atau “orang paling berkuasa” di Iran.
Sebelum insiden ini, Larijani terakhir kali terlihat di depan umum pada Jumat, 13 Maret 2026, saat menghadiri demonstrasi Hari Quds di Teheran, sebuah acara tahunan untuk mendukung Palestina. Ia dikenal memiliki pandangan garis keras namun juga pragmatis dalam bernegosiasi, dan baru-baru ini mengeluarkan pernyataan menantang terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan bahwa kematian Larijani akan menjadi “sumber kehormatan, kekuatan, dan kebangkitan nasional” bagi bangsa Iran. IRGC juga memperingatkan bahwa mereka “tidak akan melupakan pertumpahan darah syuhada agung ini,” mengisyaratkan potensi pembalasan di tengah eskalasi konflik.
Selain Larijani, Gholamreza Soleimani, komandan pasukan paramiliter Basij, juga dilaporkan tewas dalam serangan terpisah dan kematiannya telah dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran.