Situasi di Timur Tengah memanas setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Bahrain pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan ini dikonfirmasi oleh Pemerintah Bahrain dan disebut sebagai respons atas agresi gabungan AS-Israel ke wilayah Iran.
Markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain, menjadi sasaran utama serangan rudal Iran. Armada Kelima merupakan komando vital AS yang bertanggung jawab atas keamanan maritim di Teluk Persia, Laut Merah, dan Samudra Hindia. Naval Support Activity (NSA) Bahrain, yang menjadi rumah bagi Komando Pusat Angkatan Laut AS dan Armada Kelima, menampung sekitar 9.000 personel militer dan pegawai sipil Departemen Pertahanan.
Serangan balasan Iran ini tidak hanya menyasar Bahrain, tetapi juga fasilitas militer AS di Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA). Laporan menyebutkan ledakan terdengar di Kuwait dan Abu Dhabi, UEA, sementara Qatar berhasil mencegat dua rudal Iran di wilayah udaranya. Kementerian Luar Negeri Malaysia bahkan mengecam serangan ke Iran dan serangan balasan berikutnya ke Arab Saudi, Bahrain, UEA, Kuwait, dan Qatar.
Menyusul insiden tersebut, Kedutaan Besar AS di Bahrain mengumumkan penutupan operasional pada Minggu, 1 Maret 2026, dan membatalkan semua janji temu konsuler. Langkah ini diambil “mengingat serangan rudal yang sedang berlangsung terhadap Bahrain pada 28 Februari,” demikian pernyataan kedutaan. Peningkatan kewaspadaan keamanan juga diberlakukan di beberapa negara di kawasan Teluk.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, menegaskan bahwa operasi ini akan terus berlanjut hingga musuh dikalahkan secara telak. IRGC juga menyatakan bahwa seluruh aset AS di kawasan kini dianggap sebagai target yang sah bagi militer Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hamid Ghanbari menyatakan bahwa Iran memiliki hak untuk membela diri dan menyampaikan penyesalan atas setiap korban yang timbul akibat eskalasi militer saat ini.
Hingga saat ini, belum ada laporan resmi yang merinci jumlah korban jiwa atau tingkat kerusakan spesifik pada pangkalan militer AS di Bahrain. Namun, UEA melaporkan satu warga sipil Asia tewas akibat serpihan yang jatuh setelah rudal dicegat. Para analis menyoroti bahwa Bahrain dipandang Iran sebagai target profil tinggi yang selama ini relatif minim pertahanan udara, bahkan drone Shahed buatan Iran yang bergerak lambat dilaporkan mampu menembus pertahanan.
Eskalasi ini terjadi setelah Angkatan Laut AS sebelumnya telah menarik semua kapalnya dari pangkalan di Bahrain pada akhir Februari 2026 di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Pasukan AS juga telah dievakuasi dari Bahrain sebagai tindakan pencegahan. Iran memiliki kemampuan rudal yang luas, termasuk rudal balistik jarak pendek dan menengah, serta rudal jelajah yang dapat membawa hulu ledak konvensional. Program rudal Iran disebut-sebut mengandalkan teknologi dari Korea Utara, Rusia, dan Tiongkok.