Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas secara signifikan setelah serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Eskalasi ini segera direspons oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dengan mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada hari yang sama. Langkah drastis ini sontak memicu kekhawatiran serius akan lonjakan harga minyak mentah global, yang berpotensi menembus level psikologis US$100 per barel.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim yang sangat krusial bagi perdagangan energi dunia. Diperkirakan sekitar seperlima hingga sepertiga dari total volume minyak mentah yang diangkut melalui laut secara global melewati selat strategis ini setiap harinya. Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari menegaskan bahwa penutupan selat ini merupakan respons langsung atas agresi terhadap Iran.
Dampak langsung dari ketegangan ini sudah terasa di pasar komoditas. Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), harga minyak mentah Brent melonjak 2,45 persen menjadi US$72,48 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,78 persen ke US$67,02 per barel. Analis pasar memprediksi bahwa jika konflik berlarut lebih dari dua pekan dan gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut, harga minyak dapat menembus batas US$100 per barel, bahkan berpotensi mendekati US$120 per barel.
Peningkatan ketegangan ini berakar dari kegagalan perundingan nuklir tidak langsung antara AS dan Iran di Jenewa, Swiss, yang berlangsung pada 26-27 Februari 2026. Situasi semakin rumit dengan laporan serangan rudal balistik Iran ke wilayah Israel dan penargetan infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Hal ini menunjukkan bahwa konflik berpotensi meluas di kawasan yang sudah rentan.
Menanggapi situasi genting ini, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) dijadwalkan mengadakan pertemuan darurat pada Minggu (1/3/2026). Kelompok produsen minyak ini akan mempertimbangkan opsi peningkatan produksi minyak yang lebih besar dari rencana awal, sebagai upaya untuk menstabilkan pasar energi global dan mencegah lonjakan harga yang tidak terkendali.
Bagi Indonesia, sebagai negara net importir minyak dan gas, lonjakan harga energi global akan memiliki dampak signifikan. Ekonom memprediksi bahwa kenaikan harga minyak akan memicu inflasi domestik, menekan nilai tukar rupiah, dan mempersempit ruang fiskal pemerintah akibat peningkatan biaya impor energi. Beberapa perusahaan pelayaran besar juga telah mulai menangguhkan pengiriman minyak mentah dan bahan bakar melalui Selat Hormuz, meskipun Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan bahwa selat tersebut tetap terbuka pada 1 Maret, namun dengan imbauan kewaspadaan tinggi.
Iran sendiri telah berulang kali menegaskan kontrolnya atas Selat Hormuz dan memiliki kapasitas militer, termasuk persediaan ranjau dan rudal jarak pendek, yang dapat mengganggu lalu lintas maritim secara serius. Meskipun Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki infrastruktur alternatif untuk menyalurkan minyak, kapasitasnya sangat terbatas, hanya sekitar 2,6 juta barel per hari, jauh di bawah volume yang biasanya melewati Selat Hormuz. Kondisi ini menggarisbawahi kerentanan pasokan energi global terhadap setiap gangguan di jalur vital tersebut.