Iran Tutup Selat Hormuz Pasca Serangan AS-Israel, Lalu Lintas Kapal Terhenti dan Tanker Diserang

selat hormuz, iran, amerika serikat, israel, ayatollah ali khamenei

Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah secara resmi menutup pada Sabtu, 28 Februari 2026, menyusul serangkaian serangan udara gabungan yang dilancarkan oleh dan Israel. Insiden ini, yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran serta sejumlah pejabat militer, telah memicu kekacauan signifikan pada jalur pelayaran vital dunia dan menyebabkan lalu lintas kapal tanker minyak serta gas alam cair (LNG) hampir terhenti.

Penutupan Selat Hormuz, yang diumumkan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC), segera menimbulkan dampak serius. Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa lebih dari 150 hingga 250 kapal tanker minyak dan LNG kini terdampar atau berlabuh di luar selat, menunggu perkembangan situasi. Perusahaan pelayaran global raksasa seperti Hapag-Lloyd, Maersk, dan CMA CGM telah mengumumkan penangguhan transit atau pengalihan rute kapal mereka karena meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut. Lalu lintas kapal dilaporkan turun drastis hingga 70-90% pasca-pengumuman penutupan.

Serangan Terhadap Kapal Tanker Skylight

Di tengah situasi yang memanas, sebuah kapal tanker minyak berbendera Palau, Skylight, menjadi korban serangan pada Minggu, 1 Maret 2026. Kapal tersebut dihantam serangan drone di lepas pantai Semenanjung Musandam, Oman, sekitar 5 mil laut (sekitar 9 km) di utara Pelabuhan Khasab. Serangan ini menyebabkan kebakaran hebat di bagian buritan kapal dan melukai empat awak. Seluruh 20 awak kapal, yang terdiri dari 15 warga negara India dan 5 warga Iran, berhasil dievakuasi.

Garda Revolusi Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Skylight. Mereka menyatakan bahwa kapal tersebut “melanggar perintah” dan mencoba melintas secara ilegal di selat yang telah mereka tutup. Laporan juga menyebutkan bahwa Skylight sebelumnya berada di bawah sanksi AS karena dugaan keterkaitannya dengan perdagangan minyak Iran.

Dampak Global dan Kekhawatiran Ekonomi

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, mengangkut sekitar 20% pasokan minyak mentah dan volume besar gas alam cair global setiap harinya. Negara-negara produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Qatar sangat bergantung pada selat ini untuk ekspor energi mereka.

Penutupan selat ini telah memicu kekhawatiran besar di pasar energi global, dengan prediksi lonjakan tajam harga minyak dunia. Analis memperkirakan harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate berpotensi melonjak signifikan, bahkan bisa melampaui USD 100-120 per barel jika penutupan berlanjut. Premi asuransi kapal dan biaya logistik juga diperkirakan akan melonjak, menambah beban pada rantai pasok global.

Bagi Indonesia, eskalasi konflik ini diperkirakan akan berdampak langsung pada gangguan rute perdagangan, terutama yang menuju Timur Tengah. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu kelancaran distribusi barang impor dan ekspor Indonesia, serta memicu kenaikan biaya logistik.

Meskipun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sempat menyatakan negaranya tidak berniat menutup Selat Hormuz, sinyal digital dan tindakan perusahaan pelayaran menunjukkan bahwa kawasan tersebut kini dihindari secara luas. Kementerian Pelayaran Yunani juga telah mengeluarkan peringatan agar kapal-kapal menghindari Teluk Persia, Teluk Oman, dan Selat Hormuz. Sementara itu, US MARAD Advisory 2025-012 yang berkaitan dengan serangan Houthi di Laut Merah dan Teluk Aden juga tetap aktif, menandakan kondisi keamanan maritim yang masih rentan di seluruh kawasan.