Ketegangan di kawasan Timur Tengah mencapai puncaknya pada Sabtu, 28 Februari 2026, setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Langkah drastis ini diambil sebagai respons atas serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Penutupan jalur maritim strategis ini segera memicu kekhawatiran serius di pasar energi global, mengingat perannya yang vital bagi pasokan minyak dan gas dunia.
Menurut laporan, sejumlah kapal yang berlayar di kawasan Teluk menerima siaran radio frekuensi tinggi dari IRGC yang memperingatkan bahwa mereka tidak diizinkan melintasi Selat Hormuz. Akibatnya, banyak kapal tanker minyak dan kapal komersial dilaporkan mengubah arah atau menunda pelayaran, memilih untuk menunggu di luar pintu masuk selat. Meskipun Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari secara eksplisit menyatakan penutupan telah dilakukan oleh pasukannya, beberapa sumber menyebut pemerintah Iran belum mengeluarkan konfirmasi resmi.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Badan Informasi Energi AS (EIA) bahkan menyebutnya sebagai titik penyempitan transit minyak paling krusial secara global. Pada titik tersempitnya, selat ini hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer dengan jalur pelayaran masing-masing sekitar 3 kilometer ke dua arah, menjadikannya area yang padat dan berisiko tinggi.
Signifikansi Selat Hormuz tidak dapat diremehkan. Diperkirakan sekitar 20 persen konsumsi minyak global, atau sekitar 13 juta hingga 20 juta barel minyak mentah dan bahan bakar per hari, melewati jalur ini. Angka ini setara dengan 31 persen dari total arus minyak global melalui laut. Selain minyak, sekitar 20 persen pasokan gas alam cair (LNG) dunia dari Uni Emirat Arab dan Qatar juga bergantung pada selat ini. Negara-negara produsen minyak utama OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk mengekspor produk energi mereka ke pasar internasional.
Dampak ekonomi dari penutupan Selat Hormuz diperkirakan akan sangat parah. Analis energi memprediksi harga minyak mentah global dapat melonjak tajam, antara 5 hingga 10 persen dalam waktu singkat, bahkan berpotensi menembus angka di atas 100 dolar AS per barel jika gangguan berlangsung lama. Kenaikan harga minyak ini tidak hanya akan memicu tekanan inflasi global, tetapi juga berisiko menyebabkan resesi ekonomi dunia. Perusahaan asuransi juga diperkirakan akan menaikkan premi angkutan laut secara drastis, menambah beban biaya logistik.
Ketegangan yang memicu penutupan ini bermula dari serangkaian serangan rudal yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap berbagai target di Iran, termasuk Teheran, yang dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban sipil, termasuk 40 anak-anak di sebuah sekolah. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan menargetkan infrastruktur militer AS di Timur Tengah, termasuk markas besar Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain.
Menyikapi situasi yang memanas, Administrasi Maritim AS sebelumnya telah mengeluarkan peringatan pada 10 Februari 2026, agar kapal-kapal berbendera AS menjauh dari perairan Iran di Selat Hormuz. Sementara itu, pada 22 Februari 2026, kehadiran kelompok tempur kapal induk AS USS Gerald R. Ford di Teluk Persia semakin meningkatkan tensi. Bahkan, Kementerian Pelayaran Yunani pada 28 Februari 2026, menyarankan kapal-kapal berbendera Yunani untuk menghindari Teluk Persia, Teluk Oman, dan Selat Hormuz karena potensi risiko konflik yang meningkat.
Di sisi lain, Iran sendiri sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk mengekspor minyaknya, terutama ke Tiongkok. Para analis menilai penutupan selat ini bisa menjadi langkah kontraproduktif bagi Teheran dalam jangka panjang, terutama dalam hubungannya dengan mitra dagang dan negara-negara Arab Teluk yang selama ini berupaya memperbaiki hubungan. Iran juga secara rutin melakukan latihan militer di Selat Hormuz, dengan Angkatan Laut IRGC mengklaim memiliki “dominasi intelijen penuh 24 jam” untuk menjamin keamanan pelayaran, serta berlatih intervensi dan penyitaan kapal yang tidak berizin.
Situasi ini menandai salah satu eskalasi paling serius di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir, dengan risiko meluasnya konflik regional dan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi global.