Situasi di Timur Tengah kembali memanas drastis pada Senin, 2 Maret 2026, setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai target Hizbullah di Lebanon. Aksi balasan ini menyusul rentetan tembakan roket dan pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan Hizbullah ke wilayah Israel utara, yang diklaim sebagai respons atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, memicu gelombang eskalasi yang mengkhawatirkan di seluruh kawasan.
Eskalasi Cepat di Perbatasan
Hizbullah mengonfirmasi telah menembakkan rudal dan drone ke Israel, dengan salah satu target adalah fasilitas pertahanan rudal Mishmar al-Karmel di dekat Haifa. Kelompok yang didukung Iran ini menyatakan serangan tersebut sebagai “pembalasan atas darah murni Ali Khamenei, untuk membela Lebanon dan rakyatnya, dan sebagai tanggapan atas serangan Israel yang berulang.” Pernyataan lain menyebutkan, “Demi membela Lebanon dan rakyatnya serta sebagai respons atas agresi Israel yang berulang.”
Beberapa jam setelah serangan Hizbullah, militer Israel (IDF) merespons dengan gempuran udara intensif. Ledakan keras dilaporkan mengguncang ibu kota Lebanon, Beirut, khususnya di pinggiran selatan Dahieh yang merupakan basis utama Hizbullah. Serangan juga menyasar wilayah Lebanon selatan dan Lembah Bekaa di timur.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan Lebanon, setidaknya 31 orang tewas dan 149 lainnya luka-luka akibat serangan Israel. Sebanyak 20 korban tewas dan 91 luka-luka berada di pinggiran selatan Beirut, sementara 11 orang tewas dan 58 luka-luka di Lebanon selatan. Beberapa perwira senior Hizbullah juga diklaim tewas dalam serangan di Dahieh, dan sejumlah bangunan di desa-desa dekat Tyre dilaporkan runtuh.
Peringatan dan Mobilisasi Israel
Militer Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi bagi penduduk di lebih dari 50 kota dan desa di Lebanon selatan dan timur, mendesak mereka untuk menjauh setidaknya 1.000 meter dari “fasilitas operasional Hizbullah.” Evakuasi massal terlihat di Dahieh, dengan warga berbondong-bondong meninggalkan kawasan tersebut.
Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, menegaskan bahwa Hizbullah bertanggung jawab penuh atas eskalasi ini. “Hizbullah melancarkan kampanye melawan Israel dalam semalam dan sepenuhnya bertanggung jawab atas setiap eskalasi. Musuh manapun yang mengancam keamanan kita akan membayar harga yang mahal,” ujar Zamir. Ia menambahkan, “Kita harus bersiap untuk pertempuran selama berhari-hari.”
Sebagai antisipasi, Israel telah mengerahkan 100.000 tentara cadangan, banyak di antaranya ditempatkan di sepanjang perbatasan dengan Lebanon, di tengah kekhawatiran akan kemungkinan serangan darat.
Reaksi Lebanon dan Implikasi Regional
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengutuk keras serangan roket Hizbullah ke Israel, menyatakan bahwa tindakan tersebut “mengganggu upaya pemerintahnya untuk menjauhkan Lebanon dari perang regional.” Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, juga menyebut peluncuran roket tersebut sebagai “tindakan tidak bertanggung jawab” dan “mencurigakan” yang membahayakan keamanan Lebanon.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan bahwa operasi militer gabungan AS-Israel terhadap target-target Iran kemungkinan akan berlangsung “berminggu-minggu.” Sebelumnya, dilaporkan tiga personel militer AS tewas akibat serangan di pangkalan militer Kuwait. Sementara itu, Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa negaranya “tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat.”
Eskalasi ini telah memicu kekhawatiran global, termasuk penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada ekonomi dan energi dunia. Harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga USD 150 per barel. Penerbangan internasional juga terdampak, dengan sejumlah maskapai membatalkan atau mengalihkan rute. Bahkan, lebih dari 58 ribu jemaah umrah Indonesia dilaporkan belum dapat kembali ke tanah air akibat gangguan penerbangan.
Konflik ini menandai runtuhnya gencatan senjata yang dimediasi AS pada tahun 2024 antara Israel dan Lebanon, yang sebelumnya mengakhiri lebih dari setahun pertempuran. Sejak saat itu, kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.