Tel Aviv dan Teheran kembali memanas setelah Israel melancarkan serangkaian serangan udara “preventif” ke berbagai target di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Aksi militer ini segera diikuti dengan deklarasi status keadaan darurat di seluruh wilayah Israel oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.
Menteri Katz menjelaskan bahwa keputusan untuk menetapkan status darurat diambil sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan balasan dari Iran. Pihak Israel memperkirakan Teheran akan merespons dengan meluncurkan pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik dalam waktu dekat. Operasi yang dilancarkan Israel ini, menurut Katz, bertujuan untuk menetralkan ancaman terhadap negaranya dan melindungi warga sipil dari potensi bahaya.
Media Iran melaporkan adanya ledakan keras yang terdengar di Teheran, ibu kota Iran, dengan beberapa rudal dilaporkan menargetkan area vital, termasuk di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Asap tebal terlihat membubung di beberapa kawasan yang terdampak serangan.
Latar Belakang Eskalasi dan Reaksi Internasional
Serangan terbaru ini terjadi di tengah ketegangan yang telah memuncak selama beberapa waktu. Sebelumnya, Israel dan Iran terlibat dalam perang udara selama 12 hari pada Juni 2025, yang secara signifikan meningkatkan konflik langsung antara kedua negara. Sejak saat itu, kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut terus membayangi kawasan.
Menjelang serangan pada 28 Februari 2026, suasana mencekam telah menyelimuti wilayah Israel. Penduduk dilaporkan melakukan pembelian bahan pokok secara besar-besaran, rumah sakit berada dalam siaga penuh, dan tempat-tempat perlindungan (bunker) disiapkan. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan pada Januari 2026 oleh Institut Studi Keamanan Nasional Israel (INSS) bahkan menunjukkan bahwa 62,5 persen warga Zionis memperkirakan perang dengan Iran akan kembali pecah dalam beberapa bulan mendatang.
Komunitas internasional merespons perkembangan ini dengan kekhawatiran mendalam. Uni Eropa menyerukan jalur diplomasi, sementara Tiongkok dan Rusia mendesak semua pihak untuk menahan diri. Amerika Serikat dan sejumlah sekutunya di Eropa juga telah mengeluarkan imbauan bagi staf non-esensial kedutaan serta warga negaranya untuk segera meninggalkan Israel, Iran, dan Lebanon, mengingat tingginya risiko eskalasi konflik.
Upaya Diplomasi dan Ancaman Balasan
Di tengah meningkatnya ketegangan, upaya diplomatik masih terus berlangsung. Putaran terbaru dialog nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Oman di Jenewa pada 26 Februari 2026 berakhir tanpa kesepakatan signifikan, meskipun pembahasan teknis lanjutan dijadwalkan di Wina. Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap pendekatan Iran dalam negosiasi, namun tetap membuka ruang untuk dialog. Ia juga menegaskan komitmen AS untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Di sisi lain, Iran menepis tudingan AS dan Israel terkait program nuklir dan rudal balistiknya sebagai “kebohongan besar” dan kampanye disinformasi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, pada Kamis (27/2/2026) memperingatkan bahwa Iran akan membalas setiap serangan AS “dengan ganas” jika Washington nekat melancarkan aksi militer. Para ahli militer menilai Iran memiliki pertahanan udara yang kuat serta kemampuan balasan yang luas, termasuk rudal balistik dan jelajah yang mampu menargetkan pangkalan AS di negara-negara Teluk dan kapal perang AS.