Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah telah tiba, membawa serta semangat spiritual yang mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia. Berdasarkan perhitungan hisab, awal Ramadan 2026 diperkirakan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, meskipun penetapan resmi pemerintah melalui sidang isbat berpotensi menetapkannya pada Kamis, 19 Februari 2026, berdasarkan rukyatul hilal. Di tengah antusiasme menyambut bulan penuh berkah ini, urgensi istiqomah atau konsistensi dalam beribadah menjadi sorotan utama, terutama dalam mengukuhkan ketakwaan dan menjaga kualitas amalan.
Memahami Makna Istiqomah dalam Ibadah
Istiqomah, yang secara harfiah berarti keteguhan hati dan konsistensi, merupakan fondasi penting dalam menjalani setiap amal kebajikan. Dalam konteks Islam, istiqomah merujuk pada komitmen yang berkesinambungan dalam menaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Drs. Muhammad Muhtar Arifin Sholeh MLib, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Unissula, menjelaskan bahwa istiqomah bermakna bersikap lurus hati, pikiran, dan jasmani. Ia menegaskan bahwa istiqomah bukanlah soal banyaknya amalan, melainkan bagaimana menjaga konsistensinya. Konsistensi ini menjadi ciri utama orang beriman dan menjadi sebab bagi mereka menerima anugerah keamanan serta surga dari Allah SWT.
Persiapan Spiritual Menuju Konsistensi
Untuk mencapai istiqomah, persiapan spiritual yang matang sangat dianjurkan. Langkah awal yang krusial adalah meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT. Tanpa niat yang benar, ibadah mudah kehilangan makna dan hanya menjadi kebiasaan musiman. Selain itu, umat Muslim disarankan untuk memulai muhasabah diri dan membangun rutinitas ibadah secara bertahap sejak jauh hari sebelum Ramadan. Ini mencakup peningkatan kualitas shalat fardhu, membiasakan shalat sunnah, puasa Senin-Kamis, serta menjaga lisan dan emosi.
Persiapan lainnya meliputi taubat nasuha untuk membersihkan hati dari dosa, melunasi utang puasa (qadha) tahun sebelumnya, dan mendalami kembali fiqih puasa. Memperbanyak doa sejak bulan Rajab dan Sya’ban juga menjadi bagian dari ikhtiar spiritual. Bahkan, mandi wajib sebelum Ramadan dianjurkan sebagai simbol kesiapan lahir dan batin untuk menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk.
Keutamaan Shalat Tarawih di Bulan Ramadan
Salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkad) dan menjadi ciri khas bulan Ramadan adalah shalat Tarawih, yang dilaksanakan pada malam hari setelah shalat Isya. Ibadah ini memiliki keutamaan besar, di antaranya adalah pengampunan dosa-dosa yang telah lalu bagi mereka yang mengerjakannya dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan qiyam Ramadan dalam hadis Rasulullah SAW adalah shalat Tarawih.
Selain itu, orang yang melaksanakan shalat Tarawih berjamaah bersama imam hingga selesai akan dicatat baginya pahala seperti shalat semalam penuh. Shalat Tarawih juga berfungsi menghidupkan malam-malam Ramadan, mempererat ukhuwah Islamiyah melalui kebersamaan di masjid, serta melatih kesabaran, ketekunan, dan kedisiplinan ibadah. Ibadah ini menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, membersihkan masa lalu, dan memulai hidup baru dengan jiwa yang bersih, serta memberikan ketenangan jiwa bagi pelakunya.
Menyikapi Dinamika dan Tantangan
Dalam praktiknya, terdapat perbedaan jumlah rakaat shalat Tarawih, mulai dari delapan, dua puluh, hingga tiga puluh enam rakaat. Perbedaan ini adalah hal yang wajar dalam khazanah fiqih Islam dan tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan di kalangan umat. Namun, fenomena ‘Tarawih kilat’ yang sempat menjadi perbincangan, perlu disikapi dengan bijak agar esensi ibadah, yaitu kekhusyukan dan istiqomah, tetap terjaga. Konsistensi dalam beribadah, dengan niat yang ikhlas dan hati yang khusyuk, akan menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi spiritual yang berkelanjutan, tidak hanya selama bulan suci, tetapi juga di bulan-bulan berikutnya.