JAKARTA, 24 Januari 2026 – Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, menanggapi kondisi situ di ibu kota yang kini hanya tersisa 200. Ia menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkomitmen untuk merevitalisasi situ yang ada serta membangun situ dan waduk baru sebagai solusi pengendalian banjir.
Program JakTirta untuk Mitigasi Banjir
Chico menjelaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta telah mengimplementasikan program pengendalian banjir secara bertahap melalui Rencana Strategis Jangka Menengah 2025-2027. “Solusi utama kami adalah Program JakTirta, yang mencakup pembangunan sistem polder, revitalisasi kali dan sungai, pembangunan waduk serta embung (yang fungsinya mirip situ sebagai tampungan air),” kata Chico kepada wartawan, Sabtu (24/1/2026).
Program JakTirta 2025-2027 juga mencakup pembangunan embung baru di tiga lokasi tambahan dan revitalisasi sungai sepanjang dua kilometer. “Kami juga telah menyelesaikan delapan waduk baru sejak 2025, dan rencana ini akan terus diperluas untuk mengembalikan fungsi resapan air di Jabodetabek,” sambung dia.
Peresmian Waduk Batu Licin dan Upaya Jangka Panjang
Chico menambahkan bahwa pihaknya tengah merealisasikan pembangunan situ dan waduk baru di berbagai lokasi sekitar Jakarta. Ia menyebut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah meresmikan Waduk Batu Licin di Cilangkap, Jakarta Timur, yang memiliki kapasitas 92 ribu meter kubik. “Terkait pembangunan situ atau waduk baru di sekitar Jakarta, ya, kami sedang merealisasikannya. Pada Januari 2026 ini saja, Gubernur Pramono Anung telah meresmikan Waduk Batu Licin di Cilangkap, Jakarta Timur,” jelasnya.
Chico memastikan kerja sama antara Pemprov DKI dengan pemerintah pusat terjalin erat. Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk operasi modifikasi cuaca (OMC).
Perhatian Presiden terhadap Banjir Jakarta
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian terhadap banjir yang melanda wilayah Jakarta. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menilai banjir di Jakarta tidak hanya disebabkan tingginya curah hujan pada awal 2026.
“Tentunya itu hanya salah satu ya, faktor cuaca tingginya curah hujan di bulan basah akhir Januari ini memang cukup tinggi, tetapi kita tentu menyadari bahwa ini tidak sekedar faktor cuaca. Ini bagaimana perubahan tata ruang juga di situ berpengaruh, bagaimana pendangkalan-pendangkalan aliran daerah-daerah aliran sungai itu juga berpengaruh,” kata Pras Hadi di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (22/1).
Menurut data yang diketahui Pras, Jakarta sempat memiliki seribu situ atau danau yang berfungsi menjadi titik resapan air. Namun, seiring waktu, jumlahnya berkurang drastis hingga kini hanya tersisa sekitar 200 situ. Kondisi inilah yang menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.
Oleh sebab itu, Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah bertekad menyelesaikan persoalan banjir dari akar masalah hingga penanganan jangka panjangnya.






