Nama Asnawi Mangkualam Bahar kini dikenal luas sebagai salah satu pilar penting Tim Nasional Indonesia dan pemain yang berkarier di luar negeri. Namun, di balik gemilangnya karier bek kanan kelahiran Makassar, 4 Oktober 1999, ini tersimpan kisah perjuangan panjang yang ditempa keras sejak dini, bahkan sempat merasakan pahitnya tidak lolos seleksi tim nasional di usia muda.
Asnawi tumbuh besar di lingkungan sepak bola. Sang ayah, Bahar Muharram, adalah legenda PSM Makassar yang dikenal sebagai pemain dan pelatih. Sejak usia 10 tahun pada 2008, Asnawi sudah memulai karier juniornya di Sekolah Sepak Bola (SSB) Hasanuddin FC, sebuah akademi yang didirikan oleh ayahnya sendiri. Didikan Bahar Muharram terhadap Asnawi dikenal sangat disiplin, bahkan disebut-sebut menerapkan gaya militer.
Didikan Keras dan Penolakan Awal
Meski demikian, Bahar Muharram sempat memiliki kekhawatiran jika Asnawi mengikuti jejaknya di lapangan hijau. Ia tidak ingin sang anak terbebani oleh bayang-bayang nama besar ayahnya. Kekhawatiran ini terbukti dalam sebuah momen krusial pada 2012, ketika Asnawi mengikuti seleksi Timnas Indonesia U-14. Saat itu, Bahar Muharram bertindak sebagai asisten pelatih tim seleksi di Makassar. Untuk menghindari tuduhan nepotisme, Bahar sengaja tidak mengungkapkan identitas Asnawi sebagai putranya kepada pelatih kepala, Liestiadi. Bahkan, ia sendiri yang mencoret nama Asnawi dari daftar pemain yang lolos seleksi regional.
Penolakan ini tidak lantas mematahkan semangat Asnawi. Justru, pengalaman pahit tersebut menjadi motivasi besar baginya untuk berlatih lebih keras dan membuktikan kemampuannya. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Setahun kemudian, pada 2013, Asnawi berhasil lolos seleksi Timnas Indonesia U-16 dan berpartisipasi dalam Kejuaraan AFF U-16 di Myanmar, di mana tim Garuda Muda berhasil mencapai final dan meraih posisi runner-up.
Lompatan Karier Profesional dan Debut Timnas Senior
Karier profesional Asnawi dimulai pada 2016 ketika ia bergabung dengan Persiba Balikpapan untuk Indonesia Soccer Championship A. Di usia 17 tahun, ia mencatatkan namanya sebagai pencetak gol termuda dalam kompetisi tersebut. Setahun berselang, pada 2017, Asnawi kembali ke klub kampung halamannya, PSM Makassar. Di tahun yang sama, ia juga menorehkan sejarah dengan debut di tim nasional senior pada 21 Maret 2017 dalam laga persahabatan melawan Myanmar. Saat itu, Asnawi menjadi pemain termuda yang meraih caps internasional senior untuk Indonesia pada usia 17 tahun 167 hari, sebuah rekor yang kemudian dipecahkan oleh Ronaldo Kwateh.
Karier di Luar Negeri dan Tantangan Cedera Terkini
Perjalanan Asnawi terus menanjak hingga membawanya berkarier di luar negeri. Setelah sempat memperkuat Ansan Greeners dan Jeonnam Dragons di Korea Selatan, Asnawi kini bermain untuk Port FC di Thai League 1. Namun, pada Maret 2026 ini, Asnawi harus menghadapi tantangan baru. Ia dilaporkan mengalami cedera ligamen lutut atau Anterior Cruciate Ligament (ACL) yang diperkirakan akan membuatnya absen hingga akhir musim. Kondisi ini menyebabkan Asnawi tidak dapat bergabung dengan skuad Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026.
Di tengah masa pemulihan, rumor mengenai masa depannya juga santer beredar. Asnawi dikabarkan menjadi incaran Persija Jakarta, bahkan disebut-sebut karena alasan personal. Namun, pihak Port FC dilaporkan memiliki sikap tegas dengan menyatakan ‘Asnawi not for sale’, menunjukkan betapa pentingnya peran sang bek kanan di klub Thailand tersebut. Kisah Asnawi Mangkualam adalah cerminan dari dedikasi, ketekunan, dan semangat pantang menyerah yang membawanya dari didikan keras sang ayah hingga menjadi salah satu pemain kunci di kancah sepak bola nasional dan internasional.