Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali tertekan signifikan pada awal pekan ini, Senin (2/3/2026), dengan pelemahan lebih dari 2% di tengah memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran menjadi pemicu utama sentimen negatif yang menyelimuti pasar modal global, termasuk Indonesia.
Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, merespons kondisi ini dengan mengimbau para pelaku pasar untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan secara emosional. “Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey dalam keterangannya, Senin (2/3/2026). Ia juga menambahkan, “Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing-masing investor.”
Pada pembukaan perdagangan pagi, IHSG langsung anjlok 1,73% ke level 8.092,90, setelah pada penutupan Jumat (27/2/2026) berada di level 8.235. Bahkan, indeks sempat menyentuh posisi terendah intraday di 8.039. Pelemahan ini turut menyeret sejumlah sektor, dengan sektor keuangan dan infrastruktur menjadi penekan utama indeks.
Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah serangan terkoordinasi AS-Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026), yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah pejabat militer Iran lainnya. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara yang menjadi basis pasukan AS atau sekutunya di kawasan Teluk. Situasi ini memicu sentimen “risk-off” global, di mana investor cenderung menarik diri dari aset berisiko dan beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas.
Dampak langsung dari eskalasi ini juga terlihat pada pasar komoditas. Harga minyak dunia melonjak tajam, dengan minyak mentah Brent sempat menembus level US$82,37 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di atas US$70 per barel pada Senin (2/3/2026). Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi energi global.
Analis pasar modal memprediksi IHSG akan bergerak volatil dalam jangka pendek. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyarankan investor untuk mengurangi posisi portofolio dan memperbanyak sikap wait and see. Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang konsolidasi dengan dukungan di level 8.031 dan resistensi di 8.437. Meskipun demikian, beberapa analis juga mencatat bahwa pasar Indonesia yang didorong oleh komoditas berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga komoditas global, terutama di sektor energi dan pertambangan, jika harga komoditas bertahan tinggi.
Sepanjang tahun berjalan, investor asing masih mencatatkan jual bersih (net outflow) yang signifikan di pasar saham Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketidakpastian global masih menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan pasar domestik.