Langit di atas perairan internasional dekat Semenanjung Korea kembali menjadi saksi bisu ketegangan antara dua kekuatan militer global, Amerika Serikat (AS) dan China. Pada Rabu (18/2/2026) malam, sejumlah jet tempur AS dan China dilaporkan saling berhadapan dalam insiden singkat yang memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi di kawasan yang sensitif secara geopolitik ini.
Insiden tersebut bermula ketika sekitar 10 jet tempur F-16 milik Pasukan AS di Korea (USFK) lepas landas dari Pangkalan Udara Osan di Pyeongtaek, sebelah selatan Seoul. Pesawat-pesawat tempur AS itu kemudian terbang melintasi perairan internasional di Laut Kuning, sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan China dan Semenanjung Korea, menjadikannya sangat strategis.
Menanggapi kehadiran pesawat AS yang beroperasi di ruang udara antara Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Korea Selatan dan China, militer Beijing segera mengerahkan jet tempurnya untuk melakukan pemantauan ketat. Meskipun terjadi pertemuan jarak dekat antara kedua belah pihak, dilaporkan tidak ada tembakan yang dilepaskan, dan situasi berakhir tanpa adanya bentrokan fisik.
Laporan awal mengenai insiden ini berasal dari media Korea Selatan, yang mengutip sumber militer anonim. USFK sendiri telah memberikan informasi kepada militer Korea Selatan sebelum aktivitas penerbangan dilakukan, namun tidak mengungkapkan detail operasional, termasuk tujuan dari misi tersebut. Hingga saat ini, baik pihak militer Korea Selatan maupun USFK belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut. Seorang pejabat Kementerian Pertahanan Korea Selatan menegaskan bahwa koordinasi keamanan antara kedua negara tetap berjalan baik, namun tidak dapat mengonfirmasi rincian operasional yang melibatkan aset militer AS. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China juga tidak menanggapi permintaan komentar yang diajukan.
Konflik di Zona Sensitif
Laut Kuning, tempat insiden ini terjadi, merupakan salah satu titik panas di Asia Timur. Wilayah ini sering menjadi lokasi bersinggungannya kepentingan militer AS dan China. Kehadiran lebih dari 28.500 tentara AS yang ditempatkan di Semenanjung Korea sebagai bagian dari perjanjian pertahanan timbal balik dengan Seoul semakin menambah kompleksitas dinamika keamanan regional.
Insiden ini menambah daftar panjang dinamika militer di kawasan Asia Timur, di mana kehadiran militer AS dan ambisi maritim China kerap bersinggungan. Pentagon sebelumnya telah berulang kali menyoroti peningkatan agresivitas dan manuver berbahaya yang dilakukan jet tempur China terhadap pesawat AS di wilayah tersebut. Laporan Pentagon pada akhir 2025 juga memperingatkan bahwa peningkatan kekuatan militer China membuat wilayah AS semakin rentan, dengan Beijing yang berambisi menantang dominasi AS di Pasifik.
Risiko Eskalasi dan Peringatan Dunia
Meskipun insiden kali ini tidak berujung pada bentrokan fisik, para analis keamanan internasional menilai situasi tersebut sebagai “peringatan keras” bahwa rivalitas global kini semakin dekat ke titik rawan. Dunia menyoroti risiko salah perhitungan militer yang dapat memicu konflik besar, mengingat sensitivitas geopolitik di Semenanjung Korea dan ambisi militer kedua negara adidaya.
Pemerintah Jepang, melalui Perdana Menteri Takaichi Sanae, pada Jumat (20/2/2026) juga menyoroti meningkatnya agresivitas militer Tiongkok di kawasan Asia Timur, menuding Beijing berupaya mengubah status quo secara sepihak melalui tekanan dan kekuatan militer. Situasi ini menggarisbawahi perlunya komunikasi yang lebih transparan dan mekanisme deeskalasi yang efektif untuk mencegah insiden serupa di masa depan agar tidak memicu konflik yang lebih luas.