Sebuah jet tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) dilaporkan jatuh di Kuwait pada Senin, 2 Maret 2026, di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Pilot pesawat berhasil melontarkan diri dengan selamat dari insiden tersebut.
Insiden ini terjadi sekitar enam mil dari Pangkalan Udara Ali Al Salem, sebuah fasilitas militer penting AS di Kuwait. Video yang beredar luas di media sosial menunjukkan jet tempur tersebut berputar tak terkendali ke arah tanah, dengan api membakar bagian mesin dan ekornya, sebelum akhirnya menghantam daratan. Rekaman tersebut juga memperlihatkan satu awak pesawat berhasil melontarkan diri dan mendarat dengan parasut, kemudian dibantu oleh warga setempat.
F-15E Strike Eagle merupakan pesawat tempur dua kursi, yang biasanya diawaki oleh seorang pilot dan seorang Petugas Sistem Senjata (WSO). Laporan awal mengindikasikan bahwa kedua awak pesawat berhasil selamat dari kecelakaan tersebut. Hingga kini, penyebab pasti jatuhnya pesawat masih dalam penyelidikan. Namun, berbagai spekulasi bermunculan, termasuk kemungkinan insiden ‘friendly fire’ atau tembakan dari sistem pertahanan udara AS atau sekutunya di tengah kondisi siaga tinggi. Selain itu, malfungsi teknis juga menjadi salah satu dugaan penyebab.
Insiden ini terjadi hanya berselang dua hari setelah serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran dengan rudal dan drone yang menargetkan instalasi militer AS di seluruh wilayah Teluk Persia, termasuk pangkalan-pangkalan di Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Pada Senin pagi waktu setempat, Pertahanan Udara Kuwait juga mengonfirmasi telah menembak jatuh “beberapa target udara musuh” di wilayah udaranya.
Kuwait merupakan tuan rumah bagi beberapa fasilitas militer AS yang krusial, termasuk Camp Arifjan dan Pangkalan Udara Ali Al Salem, yang berfungsi sebagai pusat operasi utama bagi pasukan Amerika di kawasan tersebut. Pangkalan Udara Ali Al Salem sendiri berlokasi strategis dekat perbatasan Irak. Jatuhnya F-15E Strike Eagle, yang dikenal sebagai tulang punggung kehadiran Angkatan Udara AS di Timur Tengah, menggarisbawahi risiko tinggi dari postur kesiapsiagaan tempur yang intensif di tengah ketegangan regional.
Komando Pusat AS (CENTCOM) pada hari yang sama mengonfirmasi adanya tiga personel militer AS yang tewas di Kuwait, meskipun belum ada pernyataan resmi yang mengaitkan langsung kematian tersebut dengan jatuhnya jet tempur F-15E. Eskalasi ini merupakan bagian dari pengerahan militer AS terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003, dengan puluhan jet tempur F-15E Strike Eagle dan pesawat pendukung lainnya telah dikerahkan ke wilayah tersebut sejak Januari 2026.