Kadin dan US-ABC Perkuat Ekspor Alas Kaki RI ke AS di Tengah Tantangan Tarif

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

kadin indonesia, us-asean business council, ekspor alas kaki, amerika serikat, tarif impor

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia telah menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) dengan (US-ABC) guna memperkuat kerja sama strategis di bidang perdagangan dan investasi bilateral. Inisiatif ini bertujuan untuk memperluas akses produk industri nasional, khususnya alas kaki, ke pasar (AS). Penandatanganan MoA berlangsung di sela-sela forum US-Indonesia Economic Dialogue di kantor pusat US Chamber of Commerce (USCC), Washington D.C., AS, pada Kamis, 19 Februari 2026.

Ketua Umum , Anindya Novyan Bakrie, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan upaya untuk membuka lebih banyak peluang bagi pelaku usaha Indonesia di pasar AS. “Tanda tangan antara Kadin dengan US-ASEAN Business Council, intinya bagaimana kita bisa memperbesar pasar buat para pedagang kita, para investor dari Indonesia, para pengusaha dari Indonesia untuk bisa mengakses pasar di Amerika Serikat,” ujar Anindya. Sektor alas kaki menjadi salah satu fokus utama karena dinilai memiliki potensi ekspor yang besar untuk ditingkatkan.

Potensi dan Tantangan Ekspor Alas Kaki Indonesia

Meskipun AS merupakan tujuan utama Indonesia, nilai ekspor saat ini masih sekitar 120 juta dolar AS, jauh tertinggal dibandingkan Vietnam yang mencapai sekitar 600 juta dolar AS. Kesenjangan ini mengindikasikan ruang pertumbuhan yang signifikan bagi Indonesia, asalkan daya saing dapat terus terjaga, termasuk dari sisi tarif. Selain alas kaki, Kadin juga berupaya mendukung pelaku usaha di sektor garmen, tekstil, furnitur, dan elektronik untuk menembus pasar ekspor.

Industri alas kaki nasional menunjukkan kinerja positif di tengah fluktuasi ekonomi global. Pada Triwulan II 2025, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh sebesar 8,31 persen secara tahunan (YoY), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,12 persen. Kinerja ekspor alas kaki nasional pada periode Januari-Agustus 2025 tercatat sebesar 5,16 miliar dolar AS, meningkat 11,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang sebesar 4,61 miliar dolar AS. Indonesia menempati posisi keenam sebagai eksportir alas kaki terbesar di dunia pada tahun 2024, dengan pangsa sekitar 3,94 persen.

Namun, industri ini menghadapi tantangan serius, terutama terkait kebijakan tarif. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menyoroti bahwa tarif resiprokal sebesar 19 persen di pasar AS telah berlaku sejak 7 Agustus 2025, naik dari sebelumnya 10 persen. Dampaknya, ekspor alas kaki Indonesia ke AS mengalami penurunan sebesar 23,14 persen dari Agustus hingga September 2025. Direktur Eksekutif Aprisindo, Yoseph Billie Dosiwoda, menyatakan bahwa “Karena dampak tarif masuk ke US menyebabkan penurunan pesanan tentu ini akan memberikan dampak produktivitas dengan kejadian lay-off yang harus dihindari sangat berat pelaku Industri alas kaki walau ini sudah terjadi di sektor lain seperti tekstil.”

Upaya Pemerintah dan Prospek ke Depan

Aprisindo mendukung langkah pemerintah untuk mengupayakan tarif resiprokal yang lebih rendah, idealnya 0 persen atau di bawah 19 persen, agar dapat bersaing dengan negara-negara lain seperti Vietnam, Kamboja, Pakistan, Bangladesh, India, dan Tiongkok. Tantangan lain termasuk biaya produksi yang tinggi, ketergantungan bahan baku impor sekitar 60-70 persen, serta persaingan ketat dari Tiongkok yang mendominasi produksi global.

Pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya optimisme terhadap prospek industri alas kaki nasional. Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di Sidoarjo diharapkan dapat memperkuat kompetensi, inovasi, dan standardisasi industri. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan insentif seperti subsidi bunga kredit 5 persen dan insentif Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi pekerja di sektor padat karya.

Kerja sama dengan US-ABC juga diharapkan dapat menarik investasi asing langsung (FDI) dari AS ke Indonesia, dengan target hingga 60 miliar dolar AS. Implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Uni Eropa (IEU-CEPA) yang substansial pada 23 September 2025 juga menjadi langkah strategis untuk diversifikasi pasar ekspor, dengan harapan dapat diimplementasikan sepenuhnya pada Kuartal I 2027. Dengan sekitar 921.000 hingga 960.000 tenaga kerja yang terserap, industri alas kaki tetap menjadi salah satu penopang utama ekonomi dan stabilitas sosial nasional.