Liverpool tengah berjuang keras di paruh kedua musim Liga Inggris 2025/2026. Meskipun sempat terseok-seok, The Reds kini menunjukkan kebangkitan signifikan, terutama melalui efektivitas mereka dalam memanfaatkan situasi bola mati. Tim asuhan Arne Slot ini bertekad untuk mengakhiri musim dengan catatan manis, membidik posisi terbaik di klasemen dan melaju jauh di kompetisi lainnya.
Dominasi Bola Mati Jadi Kunci Kebangkitan
Performa Liverpool dalam beberapa pekan terakhir patut diacungi jempol. Mereka berhasil mencatatkan tiga kemenangan beruntun di liga, termasuk pesta gol 5-2 atas West Ham United di Anfield pada 28 Februari 2026. Yang menarik, tiga dari lima gol tersebut lahir dari skema sepak pojok di babak pertama, sebuah pencapaian langka yang menyamai rekor Manchester United pada tahun 2016. Kemenangan ini juga memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka menjadi delapan pertandingan di semua kompetisi.
Analisis statistik menunjukkan bahwa Liverpool telah mencetak 17 gol dari situasi bola mati (tidak termasuk penalti) di Premier League musim 2025/2026. Angka ini menempatkan mereka sebagai salah satu tim teratas dalam hal produktivitas gol dari skema tersebut. Bahkan, di tahun kalender 2026, Liverpool menjadi tim dengan gol bola mati terbanyak di Premier League, tidak termasuk penalti. Pemain seperti Hugo Ekitike, Virgil van Dijk, dan Alexis Mac Allister menjadi langganan pencetak gol dari skema ini, dengan Dominik Szoboszlai kerap menjadi kreatornya.
Transformasi Setelah Awal Musim yang Sulit
Kebangkitan Liverpool dalam bola mati ini merupakan sebuah transformasi besar. Pada awal musim 2025/2026, The Reds justru memiliki catatan yang mengkhawatirkan dalam menghadapi situasi bola mati lawan. Hingga Desember 2025, mereka kebobolan 12 gol dari skema bola mati dalam 18 pertandingan liga, sementara hanya mampu mencetak tiga gol. Situasi ini bahkan menyebabkan kepergian pelatih bola mati Aaron Briggs. Pelatih kepala Arne Slot sendiri sempat mengungkapkan frustrasinya terhadap inkonsistensi timnya dalam bertahan dari bola mati. “Ini sangat membuat frustrasi karena kami (Liverpool) berada di posisi ini musim ini. Ketika kami berada di pertengahan musim lalu (ketika memenangkan liga), kami belum kebobolan satu gol pun dari bola mati,” ujar Slot pada Desember 2025.
Namun, perubahan taktik dan fokus tampaknya membuahkan hasil. Tim kini menunjukkan peningkatan signifikan, bahkan mencetak tujuh gol bola mati secara beruntun dalam beberapa pekan terakhir, sebuah rekor Premier League.
Tantangan dan Ambisi di Sisa Musim
Meskipun menunjukkan performa yang membaik, Liverpool masih menghadapi tantangan berat. Hingga 1 Maret 2026, mereka menempati posisi keenam di klasemen Premier League dengan 45 poin dari 27 pertandingan. Posisi ini jauh dari ekspektasi setelah mereka berhasil meraih gelar juara Premier League di musim perdana Arne Slot pada 2024/2025. Pelatih Arne Slot pun mengakui bahwa musim ini menjadi periode terberat dalam karier kepelatihannya, dengan tekanan yang meningkat seiring hasil yang tidak konsisten.
Selain persaingan di liga, Liverpool juga masih berkompetisi di Piala FA (putaran kelima) dan Liga Champions UEFA (babak 16 besar), menambah beratnya jadwal pertandingan. Sayangnya, mereka harus bermain tanpa gelandang serang andalan Florian Wirtz yang masih dibekap cedera punggung dan belum diketahui kapan akan kembali. Wirtz telah menyumbangkan enam gol dan delapan assist musim ini. Namun, ada kabar baik dengan pulihnya Jeremie Frimpong yang siap kembali memperkuat tim.
Dengan sisa pertandingan yang krusial, Liverpool di bawah asuhan Arne Slot bertekad untuk menjaga momentum positif ini. Pertandingan tandang melawan Wolves pada 3 Maret 2026 akan menjadi ujian berikutnya bagi konsistensi The Reds dalam upaya mereka mengamankan tiket kompetisi Eropa dan mengakhiri musim dengan pencapaian yang membanggakan.