Manchester United tengah menikmati periode kebangkitan signifikan di bawah arahan pelatih interim Michael Carrick. Sejak mengambil alih kursi kepelatihan pada Januari 2026, Carrick berhasil membawa stabilitas dan performa impresif yang kontras dengan masa kepemimpinan Ruben Amorim sebelumnya.
Amorim, yang ditunjuk sebagai manajer Manchester United pada November 2024 dengan kontrak hingga 2027, harus mengakhiri masa jabatannya lebih cepat pada Januari 2026. Periode 14 bulan kepelatihannya di Old Trafford diwarnai inkonsistensi, dengan persentase kemenangan hanya 39% dan tim terperosok ke posisi 16 klasemen Liga Inggris pada Mei 2025. Ia hanya mencatatkan dua kemenangan dari tujuh pertandingan Premier League sebelum pemecatannya.
Gaya kepelatihan Amorim dikenal dengan komitmen kuat pada formasi 3-4-3 atau 3-4-2-1, yang menekankan penguasaan bola, permainan menyerang langsung, dan tekanan tinggi. Ia bahkan pernah menyatakan, “bahkan Paus pun tidak bisa membuatnya mengubah pendiriannya” terkait sistemnya. Namun, di Manchester United, pendekatan yang kaku ini justru menimbulkan ketidakjelasan taktis dan seringkali membuat lini tengah rentan.
Salah satu kritik tajam terhadap Amorim datang dari keputusan untuk mencadangkan gelandang muda berbakat Kobbie Mainoo. Mantan pemain Manchester United, Owen Hargreaves, bahkan menyebut keputusan tersebut sebagai “mind-blowing” atau sangat mengejutkan, mengingat potensi besar Mainoo.
Berbeda dengan Amorim, Michael Carrick membawa angin segar dengan pendekatan yang digambarkan “sederhana, tenang, dan memberikan kejelasan” bagi para pemain. Filosofi kepelatihannya berfokus pada menempatkan pemain pada posisi alami mereka, membangun kepercayaan diri melalui penguasaan bola, dan transisi cepat. Carrick juga dikenal fleksibel dan adaptif terhadap individu, dengan menempatkan “kepercayaan dan rasa hormat” sebagai inti pendekatannya.
Di bawah Carrick, Manchester United menunjukkan perubahan drastis. Tim berhasil meraih empat kemenangan beruntun di Liga Inggris, menaklukkan Tottenham Hotspur, Fulham, Arsenal, dan Manchester City. Rentetan hasil positif ini, termasuk satu hasil imbang melawan West Ham, membuat Setan Merah tak terkalahkan dalam lima pertandingan dan merangkak naik ke posisi keempat klasemen liga.
Meskipun Amorim menghadapi kritik, penyerang Manchester United Matheus Cunha membela mantan pelatihnya. Cunha berpendapat bahwa Amorim berperan besar dalam membentuk skuad kompetitif saat ini dengan mendatangkan banyak pemain baru, termasuk dirinya sendiri, Bryan Mbeumo, dan Benjamin Sesko. “Aku selalu sangat berterima kasih atas apa yang telah dilakukan Ruben. Kurasa sangat mudah melihat masa lalu hanya sebagai masalah ketika banyak hal berubah, tapi dia adalah sosok yang luar biasa,” ujar Cunha.
Kini, dengan hasil yang mengesankan, Michael Carrick menjadi kandidat kuat untuk posisi manajer permanen Manchester United. Pendekatan pragmatisnya dan kemampuannya membangkitkan performa tim telah menarik perhatian manajemen klub, terutama di tengah sulitnya mendapatkan pelatih top lainnya. Sementara itu, Ruben Amorim, setelah meninggalkan Old Trafford, terlihat menikmati waktu luangnya dengan menghadiri turnamen tenis Qatar Open pada Februari 2026.