Kematian Khamenei dan Ujian Aliansi Iran-Rusia di Tengah Serangan AS-Israel

Teheran kini berada di persimpangan jalan, menghadapi duka mendalam atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah dalam serangan gabungan (AS) dan pada Sabtu, 28 Februari 2026. Peristiwa tragis ini tidak hanya mengguncang stabilitas internal Iran, tetapi juga secara fundamental menguji fondasi aliansi strategis yang selama ini dibangun dengan Rusia.

Di tengah krisis yang memuncak, respons Moskow yang cenderung simbolis dan verbal memicu kekecewaan mendalam di kalangan elite politik Iran. Banyak pihak di Teheran mulai mempertanyakan komitmen Rusia, melihatnya sebagai “teman di kala senang” yang memprioritaskan kepentingannya sendiri di atas dukungan nyata bagi sekutunya.

Keretakan di Balik Retorika Solidaritas

Hubungan Iran dan Rusia, yang selama satu dekade terakhir mengusung doktrin “menghadap ke Timur” sebagai penyeimbang hegemoni Barat, kini menghadapi ujian berat. Doktrin ini bertujuan memberikan perlindungan strategis bagi Iran dari sanksi ekonomi dan tekanan militer Barat. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara retorika kemitraan strategis dan dukungan konkret yang diharapkan Iran.

Seorang penasihat politik senior Iran, Seyed Mohammad Sadr, pada Agustus 2025 menuding Rusia memberikan informasi strategis kepada Israel terkait lokasi sistem pertahanan udara Iran selama perang 12 hari pada Juni 2025. Dalam konflik tersebut, Rusia hanya mengeluarkan kecaman verbal tanpa langkah konkret, bahkan ketika Israel berhasil melumpuhkan hampir seluruh sistem rudal S-300 buatan Rusia yang ditempatkan di Iran pada 2024. Janji pengiriman sistem S-400 dari Moskow pun tak pernah terealisasi.

Alex Vatanka, pakar Iran dari Middle East Institute di Washington, menjelaskan bahwa Rusia dan Tiongkok cenderung menjaga “jarak yang terukur” ketimbang terlibat dalam aliansi militer penuh. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrei Rudenko pada musim semi 2025 yang menegaskan bahwa perjanjian strategis kedua negara bukanlah pakta pertahanan bersama. Artinya, Rusia tidak berkewajiban memberikan bantuan militer jika Iran diserang.

Prioritas Moskow dan Keterbatasan Dukungan

Analisis menunjukkan bahwa Rusia cenderung memprioritaskan hubungannya dengan negara-negara Teluk Arab dan Israel, yang seringkali bertentangan dengan kepentingan Iran. Hubungan Moskow dengan Teheran lebih bersifat transaksional daripada ideologis. Rusia mendukung Iran sejauh itu melayani kepentingannya sendiri, tidak lebih.

Keterlibatan Rusia dalam perang di Ukraina juga membatasi kemampuannya untuk memberikan dukungan militer yang signifikan kepada Iran. Krisis Ukraina dianggap jauh lebih penting bagi Moskow dibandingkan krisis Iran. Menghadapi krisis ekonominya sendiri, Rusia juga tidak dapat menjadi pasar besar bagi produk Iran atau memberikan pinjaman besar-besaran.

Aliansi yang Terus Berjalan, Namun Penuh Tanda Tanya

Meskipun demikian, kerja sama antara Iran dan Rusia masih terus berlanjut. Pada Januari 2025, kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif 20 tahun yang mulai berlaku efektif pada 2 Oktober 2025. Perjanjian ini mencakup kerja sama politik, ekonomi, keamanan, dan teknologi. Bahkan, pada Desember 2025, Iran diam-diam menyepakati pembelian 2.500 rudal Rusia senilai 500 juta Euro (sekitar Rp 9,9 triliun), dengan pengiriman dijadwalkan mulai 2027 hingga 2029.

Pada Februari 2026, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kembali komitmen Iran untuk memperdalam aliansi dengan Rusia, menyatakan bahwa ia memantau implementasi perjanjian secara mingguan. Kedua negara juga mengadakan latihan angkatan laut bersama di Laut Oman dan Samudra Hindia bagian utara pada Februari 2026.

Menyusul serangan AS-Israel yang menewaskan Khamenei, Rusia mengutuk tindakan tersebut dan meminta warganya untuk meninggalkan Israel dan Iran. Presiden Vladimir Putin juga mengadakan konferensi video dengan Dewan Keamanan Rusia pada 1 Maret 2026 untuk membahas situasi di Iran.

Di sisi lain, Iran juga terlibat dalam dialog nuklir intensif dengan AS pada akhir Februari 2026, dengan tenggat waktu yang ditetapkan oleh Presiden Trump antara 1 hingga 6 Maret. Situasi ini menunjukkan bahwa Iran, meskipun berupaya mempertahankan aliansi dengan Rusia, juga secara pragmatis mencari jalur diplomatik dengan Barat.

Kematian Pemimpin Tertinggi Khamenei dan respons yang dirasakan kurang dari sekutu utamanya, Rusia, kemungkinan akan memicu perdebatan internal yang lebih dalam di Teheran mengenai arah kebijakan luar negeri dan keandalan aliansi strategisnya di masa depan. Beberapa laporan bahkan mengindikasikan Iran mulai melirik Belarus sebagai mitra utama untuk pemulihan militernya.