Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Tutup Peluang Negosiasi Nuklir, Harga Emas Diprediksi Cetak Rekor Baru

global menunjukkan tren penguatan signifikan pada awal Maret 2026, didorong oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi ketegangan antara dan , terutama pasca-kematian Pemimpin Tertinggi Iran , telah menutup peluang negosiasi nuklir dan memicu lonjakan permintaan terhadap aset lindung nilai.

Pada 1 Maret 2026, harga emas dunia (XAUUSD) tercatat berada di level $5.278,27 per troy ounce. Angka ini mendekati rekor tertinggi sepanjang masa sebesar $5.595,42 yang sempat dicapai pada akhir Januari 2026. Para analis memproyeksikan tren bullish ini akan berlanjut, dengan beberapa lembaga keuangan besar seperti UBS dan J.P. Morgan bahkan memperkirakan harga emas dapat menyentuh $6.200 hingga $6.300 per ounce pada tahun 2026.

Negosiasi Nuklir AS-Iran di Ambang Kegagalan

Situasi geopolitik yang memanas menjadi katalis utama penguatan harga emas. Negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat dilanjutkan di Jenewa pada 26 Februari 2026, dilaporkan mengalami kemajuan signifikan oleh mediator Oman. Namun, harapan akan tercapainya kesepakatan meredup setelah Iran mengisyaratkan pembatalan seluruh agenda negosiasi. Teheran menolak untuk memindahkan pengayaan uranium ke luar negeri dan menuntut pencabutan sanksi internasional, menunjukkan ketidaksesuaian dengan tuntutan Presiden AS Donald Trump yang menginginkan pembatasan program nuklir Iran.

Pukulan telak terhadap prospek perdamaian datang dengan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 1 Maret 2026. Kontributor Metro TV di Iran, Ismail Amin, melaporkan bahwa kematian Khamenei dipandang sebagai ‘garis merah’ oleh Iran, yang membuat opsi perdamaian sulit diterima dalam waktu dekat. Kegagalan pertemuan di Jenewa dan meningkatnya ketegangan pascaserangan Israel ke Teheran juga memperbesar risiko konflik terbuka, menurut pengamat pasar emas Ibrahim Assuaibi.

Harga Emas Antam Ikut Terkerek

Di pasar domestik, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) juga menunjukkan respons terhadap dinamika global. Pada 1 Maret 2026, harga emas Antam tercatat stabil di level Rp 3.085.000 per gram. Namun, untuk hari ini, Senin, 2 Maret 2026, harga logam mulia Antam kemungkinan besar akan mencapai Rp 3.150.000 per gram. Bahkan, jika eskalasi konflik berlanjut, harga emas Antam berpotensi menembus rekor baru di level Rp 3.400.000 per gram, melampaui rekor sebelumnya Rp 3.168.000 per gram pada 29 Januari 2026.

Emas sebagai Aset Lindung Nilai

Ketidakpastian geopolitik yang semakin kompleks telah mendorong investor global untuk beralih ke emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Analis di Marex, Edward Meir, memperkirakan pasar komoditas akan bereaksi cepat terhadap konflik tersebut, dengan harga emas dan minyak kemungkinan melonjak tajam sebagai reaksi awal. Selain itu, potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga dapat mendorong kenaikan harga emas di dalam negeri.

Faktor lain yang turut mendukung tren bullish emas adalah ekspektasi penurunan suku bunga di Amerika Serikat, yang cenderung melemahkan dolar dan meningkatkan daya tarik emas. Meskipun demikian, probabilitas pemotongan suku bunga pada bulan Juni telah menurun, dan harapan akan pemotongan ketiga menjelang akhir tahun hampir lenyap. Meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral berbagai negara serta wacana dedolarisasi oleh aliansi BRICS+ juga menjadi fondasi fundamental yang menjaga harga emas sulit turun drastis.