Manchester City berhasil meraih trofi pertama mereka musim ini setelah menaklukkan rival beratnya, Arsenal, dengan skor 2-0 dalam final Piala Liga (Carabao Cup) yang berlangsung di Stadion Wembley pada Minggu, 22 Maret 2026. Kemenangan ini tidak hanya mengamankan gelar bagi The Citizens, tetapi juga diyakini telah membangkitkan kembali semangat mereka dalam perburuan gelar Premier League, sekaligus memupuskan mimpi Arsenal untuk meraih quadruple historis.
Gelandang muda Manchester City, Nico O’Reilly, menjadi pahlawan dengan memborong kedua gol kemenangan. Penampilannya yang gemilang, hanya sehari setelah ulang tahunnya yang ke-21, memberikan dorongan moral yang signifikan bagi skuad asuhan Pep Guardiola. Kemenangan ini datang pada saat krusial, terutama setelah City tersingkir dari Liga Champions di babak 16 besar oleh Real Madrid dengan agregat 5-1.
City ‘Mencium Darah’ Arsenal di Perburuan Gelar
Meski Arsenal masih memimpin klasemen Premier League dengan keunggulan sembilan poin (70 poin dari 31 pertandingan) atas Manchester City (61 poin dari 30 pertandingan), kemenangan di Piala Liga ini telah mengubah dinamika persaingan. O’Reilly, yang mencetak dua gol dalam empat menit di babak kedua, tidak ragu menyatakan dampak psikologis dari hasil ini. “Ya, 100 persen. Darah itu tidak pernah hilang – kami selalu mencium darah,” ujar O’Reilly, menegaskan keyakinan timnya. “Kami memang mencium darah dan kami harus terus maju.”
Rekan setimnya, Rodri, juga mengamini sentimen tersebut. Ketika ditanya seberapa besar dampak kemenangan ini terhadap perburuan gelar, Rodri menjawab, “Sangat, sangat besar. Itulah mengapa saya katakan ini bukan hanya pertandingan untuk gelar ini, tetapi untuk menunjukkan bahwa kami bisa mengalahkan mereka.”
Respons Pep Guardiola dan Tekanan pada Arsenal
Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, yang kini telah memenangkan Piala Liga untuk kelima kalinya—menjadikannya manajer dengan gelar terbanyak dalam sejarah kompetisi ini—dengan cerdik mengalihkan tekanan kepada Arsenal. “Sejujurnya saya ingin unggul sembilan poin,” kata Guardiola. “Ini ada di tangan mereka. Kami butuh waktu, istirahat yang luar biasa. Saya kelelahan dan setelah itu kita lihat langkah demi langkah.” Ia menambahkan pujian untuk lawan, “Saya sangat senang karena Mikel (Arteta) telah menciptakan tim yang hampir tak terkalahkan.”
Di sisi lain, Arsenal, di bawah asuhan Mikel Arteta, telah menunjukkan konsistensi yang mengesankan sepanjang musim ini. Namun, mereka memiliki sejarah tersendiri dalam menghadapi tekanan di fase-fase krusial perburuan gelar. Pada Januari 2026, Arteta sempat menyerukan ketenangan setelah kekalahan dari Manchester United di kandang yang memangkas keunggulan mereka menjadi empat poin. Arteta sendiri telah berulang kali menekankan pentingnya menikmati tekanan. “Nikmati ini, nikmati kebisingan, nikmati peluru, nikmati ekspektasi, karena di sinilah Anda ingin berada dan itu adalah bagian darinya,” ujarnya. Ia juga menyebut, “Bagi kami, tekanan adalah sebuah hak istimewa, dan kami menikmatinya.”
Pertemuan Krusial di Etihad
Perjalanan Premier League masih panjang, dan kedua tim akan kembali berhadapan dalam pertandingan yang sangat dinanti di Etihad Stadium pada 19 April mendatang. Pertemuan ini diprediksi akan menjadi penentu arah perburuan gelar. Kemenangan bagi Arsenal bisa hampir memastikan gelar, sementara kekalahan akan memberikan harapan besar bagi Manchester City untuk mengejar ketertinggalan di sisa lima pertandingan liga.
Selain Premier League, Manchester City juga masih berkompetisi di perempat final Piala FA, di mana mereka akan menghadapi Liverpool. Sementara itu, Arsenal akan berjuang di perempat final Liga Champions melawan Sporting CP dan juga di perempat final Piala FA menghadapi Southampton. Dengan trofi Piala Liga sudah di tangan, Manchester City kini memiliki momentum dan keyakinan untuk terus menekan Arsenal hingga akhir musim.