Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI tengah menyusun peta jalan strategis untuk memperkuat ekosistem musik di kawasan Indonesia Timur. Langkah ini diambil melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang bertujuan menggali potensi, tantangan, serta merumuskan arah kebijakan.
Penguatan Musik Daerah Jadi Prioritas
FGD yang diselenggarakan di Gedung Kemenbud, Jakarta, pada Rabu (28/1/2026) ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memberikan ruang yang setara bagi pertumbuhan musik daerah. Indonesia Timur dikenal sebagai wilayah yang kaya akan talenta musik tradisional maupun modern yang mampu bersaing di kancah nasional hingga internasional.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengapresiasi fenomena viralnya lagu-lagu dari Indonesia Timur sebagai sinyal positif bagi kemajuan musik nasional. Ia menilai karya musik berbasis kearifan lokal mampu menembus selera lintas wilayah dan generasi.
“Banyak musik Indonesia Timur yang viral, seperti lagu Tabola-Bale, dan ini menjadi fenomena menarik yang patut kita apresiasi oleh seluruh masyarakat Indonesia. Kementerian Kebudayaan sebagai fasilitator siap untuk mendorong dan memfasilitasi teman-teman semua dalam menciptakan ekosistem musik beserta objek pemajuan kebudayaan lainnya,” ujar Fadli Zon dalam keterangan tertulis.
Fadli Zon menambahkan bahwa keberagaman budaya Indonesia menjadi modal besar dalam melahirkan karya musik yang unik dan berdaya saing. Ia mengutip temuan lukisan purba tertua di dunia di Sulawesi Tenggara sebagai bukti kekayaan peradaban Indonesia.
“Indonesia adalah negara mega diversity dengan keberagaman dan kekayaan budayanya. Indonesia juga sebagai negara dengan peradaban tertua di dunia, terbukti melalui temuan lukisan Liang Metanduno yang ada di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara dengan usianya yang mencapai 67.800 tahun dan menjadikannya sebagai lukisan purba tertua di dunia,” ucapnya.
Kemitraan dan Kolaborasi Lintas Sektor
Kemenbud terus mendorong penguatan ekosistem musik nasional melalui berbagai program, termasuk Konferensi Musik Indonesia (KMI) yang mencakup diskusi, pameran, seminar, hingga music market. Selain musik, Kemenbud juga menekankan pentingnya pembangunan ekosistem drama musikal.
Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, menegaskan bahwa sektor musik menjadi prioritas utama Kemenbud dalam memperkuat ekosistem kebudayaan nasional. Musik dinilai memiliki peran strategis sebagai ekspresi budaya, penggerak ekonomi kreatif, dan pembentuk identitas bangsa.
“Terima kasih kepada seluruh musisi yang telah hadir. Kami ingin mendengar secara langsung dan mencatat seluruh masukan dari teman-teman sebagai bahan perumusan kebijakan ke depan,” tutur Giring.
Dalam sesi FGD, para musisi memberikan masukan konkret. Musisi asal Gorontalo, Echo Show, mengusulkan adanya “rumah” bagi musik Indonesia Timur, khususnya dalam pengelompokan dan pengakuan genre. Senada, musisi asal Ambon, Hany Patikawa, mengusulkan malam penganugerahan khusus bagi musisi Indonesia Timur.
Menanggapi hal tersebut, Giring Ganesha menyatakan negara hadir sebagai fasilitator, termasuk dalam penentuan genre musik Indonesia Timur. Ia menambahkan, Kemenbud berkomitmen mendukung ekosistem musik yang sehat melalui program Manajemen Talenta Nasional.
FGD ini dihadiri pula oleh Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra, Staf Khusus Menteri Pertahanan bidang Komunikasi Sosial dan Publik Deddy Corbuzier, Staf Khusus Menteri Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Annisa Rengganis, serta para musisi Indonesia Timur. Forum ini diharapkan dapat merumuskan peta jalan pengembangan ekosistem musik Indonesia Timur yang komprehensif dan berkelanjutan.