Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kembali menegaskan bahwa Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang sedang berlangsung simulasinya bukan merupakan instrumen untuk menilai kinerja guru atau memeringkat sekolah. TKA dirancang sebagai alat pemetaan capaian belajar murid guna memperbaiki mutu pendidikan secara berkelanjutan.
TKA: Refleksi Mutu, Bukan Kompetisi
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti secara lugas menyatakan bahwa hasil TKA tidak diharapkan berujung pada skor apalagi ranking. “Hasil TKA ini tidak diharapkan berujung pada skor apalagi ranking, namun menjadi bahan refleksi dan perbaikan proses pembelajaran,” ujar Mu’ti dalam Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2026 di Depok, Jawa Barat. Pernyataan ini sekaligus menepis polemik yang sempat viral mengenai klaim pemeringkatan sekolah berdasarkan nilai TKA.
Senada dengan itu, Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTKPG) Nunuk Suryani menekankan tujuan TKA adalah membangun budaya refleksi. “Kita ingin membangun budaya refleksi, bukan saling menyalahkan. Data yang dihasilkan akan menjadi dasar perbaikan pembelajaran dan penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran,” kata Nunuk. Ia juga menambahkan, TKA harus dijadikan momentum untuk membangun budaya jujur, tangguh, dan bertanggung jawab.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Rahmawati turut memperjelas bahwa substansi kebijakan TKA adalah pemetaan capaian kompetensi peserta didik pada aspek-aspek esensial yang menjadi fondasi pembelajaran. Hasil TKA akan menjadi bahan reflektif bagi sekolah untuk menyusun program pembelajaran ke depan, khususnya dalam penguatan literasi, numerasi, dan kemampuan berpikir kritis murid.
Simulasi TKA SD dan SMP 2026 Berlangsung
Saat ini, Kemendikdasmen tengah gencar melaksanakan Simulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SD dan SMP tahun 2026. Simulasi ini bertujuan membantu siswa, sekolah, dan satuan pendidikan memahami format soal, sistem ujian berbasis komputer, serta alur pelaksanaan tes. Simulasi TKA SD dijadwalkan berlangsung pada 2 hingga 8 Maret 2026, sementara simulasi TKA SMP telah dimulai sejak 23 Februari dan akan berakhir pada 1 Maret 2026.
Siswa dapat mengakses simulasi ini secara daring melalui platform resmi pemerintah, yakni ‘Ayo Coba TKA’ di pusmendik.kemdikbud.go.id/tka/simulasi_tka dan ‘Rumah Pendidikan (Ruang Murid)’ di rumah.pendidikan.go.id. Pendaftaran TKA untuk jenjang SD dan SMP sendiri telah dibuka sejak 19 Januari dan akan ditutup pada 28 Februari 2026.
Jadwal Penting TKA 2026
- Pendaftaran: 19 Januari – 28 Februari 2026
- Simulasi TKA SD: 2 – 8 Maret 2026
- Simulasi TKA SMP: 23 Februari – 1 Maret 2026
- Gladi Bersih: 9 – 17 Maret 2026
- Pelaksanaan Utama TKA SMP: 6 – 16 April 2026
- Pelaksanaan Utama TKA SD: 20 – 30 April 2026
- Pengumuman Hasil: 24 Mei 2026 (SMP) dan 26 Mei 2026 (SD)
TKA Bukan Penentu Kelulusan, Namun Berperan Penting
Kemendikdasmen menegaskan bahwa TKA bersifat tidak wajib dan tidak menjadi penentu kelulusan siswa dari satuan pendidikan. Kelulusan tetap menjadi kewenangan masing-masing sekolah. Namun, hasil TKA memiliki fungsi strategis sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam seleksi ke jenjang pendidikan selanjutnya, termasuk Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) untuk masuk perguruan tinggi negeri.
Kepala Bidang Pengembangan dan Fasilitasi Pelaksanaan Asesmen, Pusat Asesmen Pendidikan, Hendaru Catu Bagus, menjelaskan bahwa TKA juga berfungsi sebagai validator nilai rapor agar penilaian di sekolah semakin objektif. “Password untuk bisa ikut SNBP adalah TKA. TKA digunakan sebagai validator nilai rapor agar penilaian di sekolah semakin objektif,” terang Hendaru. Selain itu, sertifikat hasil TKA (SHTKA) dapat digunakan untuk berbagai keperluan seleksi di masa depan, seperti melamar pekerjaan, seleksi TNI/Polri, atau CPNS.
Untuk jenjang SD dan SMP, hasil TKA juga akan menjadi bagian dari instrumen penilaian jalur prestasi dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Mata pelajaran yang diujikan untuk jenjang SD dan SMP mencakup Bahasa Indonesia dan Matematika, sementara untuk SMA/SMK ditambahkan Bahasa Inggris dan dua mata pelajaran pilihan.
Meskipun demikian, Mendikdasmen Abdul Mu’ti memastikan bahwa siswa yang tidak mengikuti TKA tetap memiliki peluang luas untuk masuk PTN melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dan jalur mandiri.