Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia mengimbau seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Iran untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan menjaga komunikasi intensif dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Teheran. Imbauan ini menyusul laporan serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke beberapa kota di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Juru bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, memastikan bahwa KBRI Teheran telah mengonfirmasi terjadinya serangan bersenjata melalui udara di sejumlah kota sekitar pukul 09.45 waktu setempat. Serangan tersebut dilaporkan menghantam Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah, dengan beberapa laporan menyebutkan target di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian di Teheran. Media juga melaporkan serangan terhadap sebuah sekolah di kota Minab yang menewaskan 51 orang.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pasukan AS meluncurkan operasi militer berskala besar untuk melindungi rakyatnya dengan meniadakan ancaman yang disebutnya berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Iran. Ini merupakan serangan kedua yang diperintahkan oleh Presiden Trump terhadap Iran sejak Juni 2025. Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut serangan pendahuluan ini sebagai tindakan preventif untuk menetralisir ancaman strategis terhadap keamanan nasional Israel.
Pemerintah Iran mengecam keras serangan AS dan Israel tersebut, menyebutnya sebagai tindakan agresif dan kriminal yang melanggar integritas teritorial serta kedaulatan nasional. Iran menegaskan memiliki hak sah untuk merespons secara militer berdasarkan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan telah melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk, termasuk di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab, serta pusat-pusat militer dan keamanan di wilayah pendudukan.
Menyikapi situasi yang memanas, Kemlu RI mengimbau WNI di Iran untuk senantiasa mengikuti arahan otoritas setempat. KBRI Teheran saat ini memfokuskan komunikasi intensif dengan para WNI dan telah menerbitkan edaran terbaru yang memuat saran serta langkah konkret guna memastikan keselamatan dan keamanan mereka. Duta Besar Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan, Roy Soemirat, menyampaikan bahwa sebanyak 329 WNI telah terdaftar secara resmi di KBRI Teheran.
Hingga Sabtu sore waktu Iran, seluruh WNI yang telah dihubungi di berbagai kota melaporkan bahwa mereka tidak mengalami atau merasakan adanya ancaman langsung. Belum ada laporan mengenai korban WNI akibat serangan ini. KBRI Teheran akan terus melakukan penilaian menyeluruh terhadap situasi keamanan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan keselamatan WNI.
Dalam keadaan darurat, WNI dapat segera menghubungi hotline KBRI Teheran melalui nomor +98 9914668845 atau +98 902 466 8889. Alternatifnya, WNI juga dapat menghubungi hotline Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri di nomor +62 812-9007-0027.
Eskalasi militer ini berpotensi memicu konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, dengan dampak yang tidak hanya terbatas pada aspek keamanan, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global. Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta, mengingatkan bahwa setiap ketegangan di Timur Tengah selalu berdampak pada pasar energi dunia, pergerakan investor global, dan jalur perdagangan internasional. Indonesia diharapkan dapat mengambil peran aktif dalam mendorong upaya diplomasi untuk deeskalasi konflik.