Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kembali menyoroti potensi kenaikan harga air minum dalam kemasan (AMDK) di pasar domestik. Kekhawatiran ini muncul seiring dengan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas sejak akhir Februari 2026, mendorong lonjakan harga minyak mentah global dan bahan baku plastik kemasan.
Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardhika, menjelaskan bahwa dampak paling signifikan dari gejolak geopolitik ini terasa pada biaya bahan baku kemasan plastik. Industri makanan dan minuman, termasuk AMDK, sangat bergantung pada subsektor kemasan yang sebagian besar berbahan plastik berbasis petroleum.
Konflik AS-Iran Picu Kenaikan Harga Minyak Global
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 telah menciptakan ketidakpastian di pasar energi global. Dalam kurun waktu 12 hari, perang ini telah menewaskan setidaknya 1.870 orang, dengan sebagian besar korban jiwa di Iran dan Lebanon.
Situasi semakin tegang setelah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, mengancam akan menjaga Selat Hormuz tetap tertutup. Selat ini merupakan jalur pelayaran vital yang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak global setiap harinya, atau sekitar 21 juta barel minyak per hari. Gangguan pada jalur ini secara efektif telah menghilangkan 20% perdagangan global dan memaksa negara-negara GCC mengurangi produksi.
Akibatnya, harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Pada 12-13 Maret 2026, harga minyak Brent tercatat di kisaran US$100,46 hingga US$100,83 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$95,02 hingga US$95,73 per barel. Kenaikan ini mencapai sekitar 9-10% dalam sehari dan lebih dari 50% dalam sebulan terakhir. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut gangguan pasokan ini sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak, mendorong pelepasan 400 juta barel dari cadangan strategis global, ditambah 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis AS.
Dampak pada Industri Air Minum Kemasan
Lonjakan harga minyak mentah secara langsung memengaruhi biaya produksi plastik, termasuk Polyethylene Terephthalate (PET) resin, yang merupakan bahan baku utama kemasan AMDK. Putu Juli Ardhika menegaskan, “Sebenarnya, yang banyak ada dampaknya di industri kami di makanan dan minuman itu adalah kemasannya. Jadi kemasannya itu biasanya dari plastik. Nah plastik ini adalah plastik petroleum based plastik.”
Selain itu, kenaikan harga minyak juga berimbas pada biaya logistik. Putu mencontohkan, “Salah satu adalah di air dalam kemasan. Itu yang mahal itu adalah bukan airnya, itu kemasannya.” Hal ini mengindikasikan bahwa biaya kemasan dapat jauh lebih mahal dibandingkan isi produknya.
Industri AMDK di Indonesia juga masih menghadapi tantangan ketergantungan pada impor bahan baku kemasan. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, pada Februari 2026, mengungkapkan bahwa pasokan bahan baku kemasan AMDK belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari dalam negeri dan banyak yang masih diimpor. Impor bahan kemasan ini bahkan dibebani bea masuk anti-dumping (BMAD) untuk produk seperti Biaxially Oriented Polypropylene (BOPP) dan Biaxially Oriented Polyethylene Terephthalate (BOPET), yang semakin menekan biaya produksi.
Kewaspadaan Pemerintah dan Kekhawatiran Publik
Kemenperin saat ini masih menghitung secara detail potensi kenaikan harga di tingkat konsumen dan berkoordinasi dengan asosiasi industri terkait untuk mencari alternatif mitigasi. Sebelumnya, pada Januari 2026, industri AMDK nasional sempat diproyeksikan memiliki prospek pertumbuhan positif, didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil dan peningkatan efisiensi produksi.
Di sisi lain, publik Indonesia juga menunjukkan kekhawatiran yang signifikan. Survei GoodStats pada 7-11 Maret 2026 menunjukkan bahwa 42,31% responden merasa cemas terhadap konflik AS-Iran-Israel, dengan 15,59% di antaranya secara spesifik khawatir akan dampaknya terhadap harga kebutuhan pokok. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekonomi yang lebih tinggi dari masyarakat.