Kericuhan Warnai Salat Idulfitri 2026: Ibu-ibu Adu Jotos di Morotai, Remaja Ribut di Surabaya

Pelaksanaan ibadah Salat 1447 Hijriah yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, diwarnai sejumlah insiden kericuhan yang mengganggu kekhusyukan jemaah di berbagai daerah. Dua peristiwa menonjol yang menjadi sorotan publik adalah empat ibu-ibu di , Maluku Utara, dan keributan antarjemaah remaja di , Jawa Timur.

Adu Jotos Ibu-ibu di Morotai Picu Geger

Di Morotai, Maluku Utara, suasana khidmat salat Idulfitri mendadak berubah menjadi ‘drama’ ketika empat orang ibu terlibat baku hantam fisik di tengah kerumunan jemaah. Insiden ini terjadi saat khatib sedang menyampaikan khotbah, membuat para jemaah bingung apakah harus fokus pada pesan keagamaan atau drama yang tersaji di hadapan mereka.

Video perkelahian yang memperlihatkan aksi saling tampar dan tarik-menarik pakaian antara dua kelompok perempuan ini dengan cepat menjadi viral di media sosial. Diduga kuat, kericuhan ini dipicu oleh masalah masa lalu atau dendam lama yang belum terselesaikan di antara mereka, yang kemudian tersulut kembali di hari kemenangan. Ironisnya, di tengah keributan yang riuh, suara khatib yang membacakan khotbah tentang persaudaraan dan kebahagiaan tetap terdengar mengalun dari pengeras suara. Sejumlah jemaah lain di lokasi berusaha melerai, namun emosi yang memuncak membuat perkelahian sulit dihentikan seketika.

Keributan Remaja di Masjid Kemayoran Surabaya

Tak hanya di Morotai, insiden serupa namun dengan pelaku berbeda juga terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Keributan antarjemaah terekam usai pelaksanaan salat Idulfitri di Masjid Kemayoran, Jalan Indrapura, Kota Surabaya, pada Sabtu, 21 Maret 2026. Peristiwa ini melibatkan jemaah pria atau remaja yang terlibat aksi saling pukul dan menendang di area luar masjid yang digunakan sebagai saf tambahan.

Menurut keterangan Marbot Masjid Kemayoran Surabaya, Dedi Kurniawan, keributan bermula dari kesalahpahaman antarjemaah. Salah satu pihak dituding mengambil ponsel milik jemaah lainnya, yang kemudian memicu adu mulut hingga berujung pada kontak fisik. Dedi menambahkan, pihak yang terlibat diduga masih berusia remaja sehingga emosi sulit dikendalikan.

Beruntung, kerumunan jemaah lain segera berupaya melerai, dan aparat kepolisian turut turun tangan untuk mengamankan situasi. “Alhamdulillah aman terkendali,” ujar Dedi Kurniawan, memastikan bahwa situasi dapat dikendalikan dalam waktu singkat.

Reaksi Publik dan Ironi Hari Kemenangan

Kedua insiden ini sontak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Warganet ramai memberi reaksi beragam, mulai dari keprihatinan atas ternodanya kekhusyukan ibadah hingga komentar bernada sindiran dan candaan, seperti menyebutnya sebagai ‘MMA Syariah’. Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga adab, menahan diri, dan benar-benar saling memaafkan di hari yang suci, di mana seharusnya menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi.