Kerim Palic Ungkap Kunci Bugar Berpuasa di BRI Super League, Rasakan Kehangatan Ramadan di Madura

kerim palic, madura united, bri super league, ramadan, sepak bola indonesia

Bulan suci kembali menyapa, membawa tantangan tersendiri bagi para pesepak bola profesional, terutama mereka yang berkompetisi di Indonesia. Di tengah jadwal latihan dan pertandingan yang padat, para pemain Muslim dituntut untuk tetap menjaga performa puncak sembari menjalankan ibadah puasa. Salah satu yang merasakan langsung dinamika ini adalah gelandang bertahan , .

Bagi Palic, Ramadan tahun 2026 ini menandai kali kedua dirinya menjalani ibadah puasa di Indonesia. Pemain asal Bosnia-Herzegovina berusia 29 tahun ini mengaku menemukan kenyamanan dan kehangatan spiritual yang berbeda di Pulau Madura.

Adaptasi dan Kiat Menjaga Kebugaran

Menjalani puasa di tengah tuntutan fisik sebagai atlet tentu bukan perkara mudah. Namun, Palic memiliki kiat khusus untuk tetap bugar. “Ramadan adalah bulan spesial untukku. Spiritual di atas segalanya. Sebagai pesepak bola profesional saya bersiap dengan menyesuaikan nutrisi yang saya konsumsi,” ungkap Palic.

Ia menambahkan, tidak ada menu spesifik yang diandalkan, namun fokus utamanya adalah meningkatkan asupan protein saat sahur dan memastikan kualitas tidur yang cukup. “Tidak ada menu spesifik. Tetapi saat sahur saya meningkatkan asupan protein dan fokus ke kualitas tidur,” imbuh Kerim.

Pengalaman berpuasa di Indonesia dinilai Palic jauh lebih bersahabat dibandingkan di kampung halamannya. Meskipun mayoritas penduduk Bosnia-Herzegovina juga Muslim, cuaca di Indonesia yang lebih hangat serta atmosfer religi yang kental sangat mendukungnya.

Dukungan Kompetisi dan Pengalaman Pemain Lain

Operator kompetisi BRI Super League turut berperan dalam memfasilitasi para pemain Muslim. Selama Ramadan, jadwal pertandingan digeser hingga selepas salat Tarawih, yakni pukul 20.30 WIB. Penyesuaian ini memungkinkan para pemain untuk berbuka puasa dan beribadah sebelum bertanding, sebuah kebijakan yang diapresiasi oleh Palic dan pemain lainnya.

Tidak hanya Palic, beberapa pemain asing lain juga merasakan pengalaman unik berpuasa di Indonesia. Striker Persija Jakarta, Alaeddine Ajaraie, yang baru pertama kali merasakan Ramadan di Indonesia pada tahun 2026, mengaku sangat nyaman dan bahkan merasa mendapat kekuatan ekstra saat bertanding. Ia berhasil mencetak gol perdananya di BRI Super League di bulan suci ini.

Senada, penyerang PSM Makassar, Sheriddin Boboev, yang juga baru bergabung, tidak mengalami kesulitan berarti beradaptasi dengan puasa di Indonesia. Pengalaman sebelumnya bermain di Liga Malaysia dengan iklim serupa menjadi bekal penting baginya. Boboev juga sukses mencetak gol pertamanya untuk PSM di tengah Ramadan.

Bahkan, pemain non-Muslim seperti bek Persib Bandung, Federico Barba, mengakui adanya perbedaan jadwal pertandingan yang digelar larut malam, namun ia menyatakan hal tersebut bukan kendala besar. Sementara itu, bek naturalisasi Persija, Shayne Pattynama, yang tidak berpuasa, mencoba merasakan pengalaman menahan lapar dan dahaga selama 12 jam dan mengapresiasi kedisiplinan serta toleransi yang ada.

Kesetiaan di Pulau Garam

Kecintaan Kerim Palic terhadap Madura United dan Pulau Madura bukan sekadar ucapan. Pada 13 Juni 2025, ia resmi memperpanjang kontraknya selama dua musim, mengikatnya dengan Laskar Sape Kerrab hingga 31 Mei 2027. Presiden Madura United FC, Achsanul Qosasi, memuji Palic sebagai “pemain yang kuat dan jenius” serta menyebutnya “bermain dengan hati.” Palic sendiri mengungkapkan kebahagiaannya bisa membela klub dan ingin tinggal lebih lama di Madura, menunjukkan ikatan emosional yang kuat dengan tim dan komunitas setempat.