Harga emas dunia (XAU/USD) terus menunjukkan penguatan signifikan, didorong oleh kombinasi ketegangan geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta data inflasi produsen AS yang melampaui ekspektasi pasar. Pada 27 Februari 2026, harga emas tercatat di level sekitar US$5.278,05 per troy ons, melonjak 1,81% dari hari sebelumnya.
Meskipun dalam sebulan terakhir harga emas sempat terkoreksi 2,62%, nilai saat ini masih 84,75% lebih tinggi dibandingkan setahun lalu. Logam mulia ini bahkan pernah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.608,35 pada Januari 2026. Beberapa analis kini memproyeksikan harga emas dapat menembus level yang lebih tinggi lagi.
Proyeksi Harga Emas: Menuju US$6.200 per Ons?
Sejumlah lembaga keuangan global telah merevisi proyeksi harga emas mereka ke atas. Trading Economics memperkirakan emas akan diperdagangkan pada US$5.152,96 per troy ons pada akhir kuartal ini dan berpotensi mencapai US$5.536,81 dalam 12 bulan ke depan. Lebih ambisius, UBS memproyeksikan harga emas dapat melonjak hingga US$6.200 per ons pada pertengahan tahun 2026, sebuah revisi besar dari target awal mereka di US$5.000.
Sebelumnya, pada Januari 2026, emas telah memecahkan rekor dengan menembus US$5.300, mencapai puncaknya di US$5.306. Analis dari JPMorgan, Goldman Sachs, dan Morgan Stanley juga telah memproyeksikan harga emas di kisaran US$4.400 hingga US$5.300 per ons untuk tahun 2026, dengan beberapa di antaranya melihat potensi mencapai US$5.055 pada kuartal keempat 2026. Bank of America pun menaikkan perkiraan harga emas 2026 menjadi US$5.000 per troy ons.
Kenaikan berkelanjutan di atas US$5.150 dianggap sebagai validasi untuk dorongan menuju US$5.300, yang membuka jalan menuju US$5.600.
Ketegangan AS-Iran dan Dampaknya
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara AS dan Iran, menjadi salah satu pendorong utama permintaan aset safe haven seperti emas. Meskipun ada laporan kemajuan signifikan dalam putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung antara kedua negara di Jenewa pada 26 Februari 2026, ketidakpastian pasar tetap tinggi.
Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, menyatakan bahwa pembicaraan akan dilanjutkan setelah masing-masing delegasi berkonsultasi di ibu kota negara mereka. Namun, di sisi lain, Washington telah meningkatkan tekanan dengan menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 30 entitas yang diduga mendukung penjualan minyak dan senjata Iran. Peningkatan aktivitas militer AS di Timur Tengah juga turut memicu kewaspadaan pasar.
Presiden AS Donald Trump, dalam pidato kenegaraannya, bahkan menguraikan alasan untuk potensi serangan terhadap Iran, menegaskan tidak akan membiarkan “sponsor terorisme terbesar di dunia” itu memiliki senjata nuklir. Peter Grant, Wakil Presiden dan Senior Strategist Logam di Zaner Metals, menekankan bahwa terlepas dari hasil pembicaraan, tingkat ketidakpastian global masih cukup tinggi.
Data Inflasi Produsen AS Lebih Tinggi dari Perkiraan
Selain faktor geopolitik, data ekonomi AS juga turut memengaruhi pergerakan harga emas. Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Januari 2026 menunjukkan kenaikan 0,4% secara musiman, melampaui estimasi konsensus 0,2%. PPI inti, yang tidak termasuk sektor makanan dan energi yang volatil, juga naik 0,5% di Januari, menjadi lonjakan bulanan tertinggi dalam hampir setahun.
Data PPI yang “lebih panas dari perkiraan” ini mengindikasikan bahwa inflasi grosir lebih “lengket” dari yang diantisipasi, memperkuat narasi “suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama” dari Federal Reserve. Meskipun demikian, tingkat inflasi tahunan (CPI) di AS melambat menjadi 2,4% pada Januari 2026, terendah sejak Mei, turun dari 2,7% pada Desember 2025.
Austan Goolsbee dari Chicago Fed sempat menyebut kemungkinan pemotongan suku bunga jika inflasi mereda, sementara Gubernur Stephen Miran mendukung pemotongan penuh 1 poin pada tahun 2026. Namun, probabilitas pemotongan suku bunga pada Juni telah turun menjadi 50%.
Faktor Pendorong Lainnya
Pelemahan dolar AS dan tren de-dolarisasi juga disebut-sebut sebagai pemicu reli emas. Selain itu, permintaan yang kuat dari bank sentral global dan investor institusional yang mencari aset keras di tengah ketidakpastian ekonomi makro dan kebijakan moneter yang longgar, menjadi fondasi kokoh bagi kekuatan emas yang berkelanjutan.