Harga minyak mentah dunia melesat tajam pada akhir Februari 2026, mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang membuat para pelaku pasar mengantisipasi potensi gangguan pasokan global.
Pada Jumat (28/2/2026), kontrak berjangka Brent, patokan global, naik 2,65 persen secara harian, menembus level psikologis US$70 per barel dan ditutup di kisaran US$72,8 per barel. Angka ini menandai kenaikan bulanan sebesar 9,24 persen sepanjang Februari. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 2,49 persen, menetap di dekat US$67 per barel pada sesi terakhir bulan Februari. Level ini merupakan yang tertinggi sejak Agustus tahun lalu untuk WTI.
Dinamika Negosiasi Nuklir dan Ancaman Geopolitik
Kenaikan harga minyak ini tidak lepas dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan ketidakpuasannya terhadap negosiasi nuklir dengan Iran. Trump mendesak Iran untuk segera menyepakati perjanjian nuklir, sembari mengeluhkan bahwa Teheran tidak bernegosiasi dengan niat baik. “Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan kami sama sekali tidak senang dengan cara mereka bernegosiasi,” tegas Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Kekhawatiran akan potensi serangan AS ke Iran telah mendorong harga minyak naik lebih dari 15 persen sepanjang tahun ini. AS juga telah mengerahkan kekuatan militer terbesar di kawasan tersebut sejak invasi Irak tahun 2003. Bahkan, AS mulai mengosongkan sebagian kedutaan besarnya di Israel pada Jumat (27/2/2026), sebuah langkah yang memicu spekulasi luas tentang potensi eskalasi konflik regional.
Pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran sempat menemui jalan buntu di Jenewa awal pekan ini, terutama karena desakan AS agar Iran menghentikan pengayaan uranium hingga nol persen dan menyerahkan seluruh stok uranium yang telah diperkaya. Namun, harga minyak kemudian berbalik melemah setelah kedua pihak sepakat memperpanjang pembicaraan hingga pekan depan, dengan diskusi tingkat teknis dijadwalkan di Wina. Mediator Oman dan pejabat Iran mengklaim adanya kemajuan dalam proses pertemuan tersebut.
Meskipun demikian, ketidakpastian masih membayangi pasar. Analis minyak di perusahaan pialang PVM, Tamas Varga, menyatakan, “Ketakutan mendorong harga lebih tinggi hari ini,” merujuk pada ketidakpastian hasil negosiasi nuklir Iran dan potensi aksi militer AS. Phil Flynn, analis senior Price Futures Group, menambahkan bahwa “Sulit membayangkan Iran akan menyetujui tuntutan pemerintahan Trump.” Sementara itu, analis ANZ Daniel Hynes mengingatkan bahwa “waktu untuk mencapai kesepakatan sangat sempit sebelum tenggat Presiden Trump pada 1-6 Maret.”
Risiko Pasokan dan Proyeksi Pasar
Pasar terus berada dalam kondisi waspada terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, terutama dari Iran yang merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC. Ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperempat pengiriman minyak dunia melalui laut, juga menjadi kekhawatiran serius. Sebagai langkah antisipasi, Arab Saudi dilaporkan telah mengaktifkan rencana untuk meningkatkan produksi dan ekspor minyak jika terjadi gangguan pasokan.
Di sisi lain, beberapa proyeksi menunjukkan adanya potensi surplus pasokan global yang dapat menekan harga dalam jangka menengah. Goldman Sachs merevisi proyeksi harga minyak Brent menjadi US$60 per barel dan WTI US$56 per barel pada kuartal IV-2026, meskipun mereka tetap memprediksi surplus pasar minyak sekitar 2,3 juta barel per hari (bpd) pada tahun 2026. J.P. Morgan Global Research juga memperkirakan harga Brent rata-rata berada di kisaran US$60 per barel pada 2026, didasarkan pada fundamental pasokan dan permintaan yang dinilai masih longgar.
Data terbaru dari Energy Information Administration (EIA) pada 26 Februari 2026 menunjukkan persediaan minyak mentah AS melonjak sebesar 15,99 juta barel, peningkatan terbesar dalam tiga tahun terakhir, yang sempat memberi tekanan pada harga. Selain itu, International Energy Agency (IEA) telah memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun 2026 menjadi 850.000 bpd, dari sebelumnya 930.000 bpd, akibat perlambatan ekonomi global dan adopsi energi terbarukan.
Pasar juga menantikan pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan pada 1 Maret 2026, yang akan menentukan kebijakan kuota produksi selanjutnya. Keputusan ini akan menjadi variabel penting bagi arah harga minyak dalam beberapa bulan ke depan, di tengah tarik ulur antara risiko geopolitik dan fundamental pasar yang cenderung surplus.