Ketegangan AS-Iran Memuncak, Sejumlah Negara Evakuasi Diplomat dari Timur Tengah

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

amerika serikat, iran, timur tengah, diplomasi nuklir, evakuasi diplomat

Situasi geopolitik di kembali memanas secara signifikan pada akhir Februari 2026, menyusul kebuntuan dalam perundingan nuklir antara (AS) dan . Ketegangan ini mendorong sejumlah negara, termasuk AS, China, dan Inggris, untuk mengevakuasi staf diplomatik serta mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya di kawasan tersebut di tengah kekhawatiran akan potensi konflik militer yang meluas.

Evakuasi Diplomat dan Peringatan Perjalanan

Amerika Serikat pada Jumat, 27 Februari 2026, mengizinkan keberangkatan staf kedutaan non-esensial dan anggota keluarga mereka dari Israel. Langkah serupa telah diambil sebelumnya pada Senin, 23 Februari 2026, dengan memerintahkan non-esensial dari Kedutaan Besar AS di Beirut, Lebanon. Pejabat Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa keputusan ini bersifat sementara, diambil demi keselamatan personel dan untuk memastikan operasional kedutaan tetap berjalan dengan staf inti.

China juga mengeluarkan imbauan mendesak pada Jumat, 27 Februari 2026, agar warganya di Iran “memperkuat tindakan pencegahan keamanan dan segera mengatur keberangkatan keluar dari Iran”. Beijing juga menyarankan warganya untuk menghindari perjalanan ke Iran sementara waktu karena situasi keamanan yang memburuk. Kedutaan Besar China di Tel Aviv turut meminta warganya untuk meningkatkan kewaspadaan.

Tak hanya itu, Inggris telah menarik sementara staf diplomatiknya dari Iran dengan alasan memburuknya situasi keamanan regional, dengan layanan konsuler yang sangat terbatas. Sejumlah negara lain seperti Australia, Kanada, Jerman, India, Polandia, Serbia, Swedia, Singapura, dan Brasil juga telah memperbarui peringatan perjalanan mereka, mendesak warga untuk meninggalkan Iran atau menghindari perjalanan ke wilayah tersebut.

Pengerahan Militer dan Ancaman Konflik

Peningkatan ketegangan ini diiringi dengan pengerahan militer AS terbesar di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir. Dua kelompok tempur kapal induk, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, telah dikerahkan ke kawasan tersebut, dengan USS Gerald R. Ford dilaporkan berada di perairan Israel. Jet tempur canggih seperti F-35, F-22, F-15, dan F-16 juga dilaporkan telah dikirim ke Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump telah menyampaikan pernyataan pesimistis mengenai upaya diplomasi untuk mencegah serangan udara ke Iran. “Saya tidak senang dengan negosiasi ini,” ujar Trump kepada wartawan di Texas pada Jumat, 27 Februari 2026. “Kami sedang bernegosiasi sekarang, tetapi mereka tidak memberikan jawaban yang tepat.” Trump juga menegaskan bahwa opsi militer tetap tersedia jika pembicaraan gagal membuahkan hasil, meskipun ia menyatakan lebih memilih kesepakatan damai. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan menyebut perundingan kali ini sebagai “kesempatan terakhir” bagi Iran.

Kebuntuan Diplomasi Nuklir

Pemicu utama ketegangan adalah kebuntuan dalam perundingan tidak langsung antara AS dan Iran mengenai program nuklir Teheran. Putaran terakhir perundingan di Jenewa pada Kamis, 26 Februari 2026, berakhir tanpa kesepakatan konkret. Iran telah mengajukan proposal baru yang mencakup kesediaan untuk menurunkan tingkat pengayaan uranium dan menangguhkan kegiatan pengayaan untuk jangka waktu tujuh tahun. Namun, Washington menginginkan komitmen yang lebih panjang dan lebih ketat.

Meskipun Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang menjadi mediator, menyatakan bahwa “perdamaian masih dalam jangkauan”, Presiden Trump memberikan sinyal yang berlawanan. Iran sendiri telah meningkatkan status siaga militernya ke level tertinggi, memandang serangan AS sebagai sesuatu yang “tak terelakkan dan segera terjadi”. Teheran juga bersumpah akan membalas setiap agresi AS “dengan ganas”, menargetkan semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di Timur Tengah. Selain itu, Iran menegaskan menolak membahas program rudalnya, menyebutnya sebagai “garis merah” yang tidak dapat dinegosiasikan.

Dampak dari ketegangan ini juga terasa di sektor maritim, dengan dua perusahaan pelayaran peti kemas terbesar di dunia, Maersk dan Hapag-Lloyd, mengalihkan sejumlah kapal mereka dari Laut Merah akibat aktivitas militan Houthi yang didukung Iran. Di Israel, Pemerintah Kota Beersheba telah memerintahkan pembukaan seluruh tempat perlindungan publik sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan rudal atau drone dari Iran.