Ketegangan Geopolitik Bayangi Persiapan Perjalanan Menuju Piala Dunia 2026

Dunia menghadapi lanskap yang semakin kompleks menjelang Piala Dunia 2026, dengan yang terus membayangi kepercayaan wisatawan dan pola perjalanan. Konflik yang sedang berlangsung di Eropa Timur, Timur Tengah, dan meningkatnya ketegangan di berbagai kawasan lain, termasuk di Amerika Serikat, menciptakan ketidakpastian signifikan bagi industri perjalanan.

Piala Dunia FIFA 2026, yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, diperkirakan akan menjadi turnamen terbesar dalam sejarah dengan 48 tim dan 104 pertandingan yang tersebar di 16 kota tuan rumah. Acara akbar ini diproyeksikan menarik jutaan pengunjung internasional, dengan Amerika Serikat saja diperkirakan akan menyambut 1,24 juta wisatawan mancanegara, di mana 742.000 di antaranya merupakan perjalanan tambahan yang tidak akan terjadi tanpa turnamen ini.

Tantangan Keamanan dan Logistik di Tengah Ketidakpastian

Meskipun negara-negara tuan rumah umumnya dianggap stabil, skala dan durasi acara yang berlangsung lebih dari sebulan ini menimbulkan tantangan logistik dan keamanan yang luar biasa. Laporan intelijen telah memperingatkan potensi serangan ekstremis, termasuk pada infrastruktur transportasi, dan kerusuhan sipil terkait kebijakan imigrasi. Kekhawatiran ini diperparah dengan adanya penundaan pencairan dana keamanan federal sebesar 625 juta dolar AS yang telah disetujui, menyebabkan persiapan keamanan di Amerika Serikat tertinggal.

Senator AS John Cornyn (R-TX) menyatakan bahwa dana sebesar 625 juta dolar AS telah diamankan melalui Undang-Undang Pemotongan Pajak Keluarga Pekerja untuk mengganti biaya Houston dan kota-kota tuan rumah lainnya dalam mengembangkan aparat keselamatan publik yang kuat. Namun, para pejabat kota tuan rumah telah menyuarakan kekhawatiran mengenai ketidakpastian yang disebabkan oleh penggerebekan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE), waktu pemrosesan visa yang lambat, dan larangan perjalanan yang diberlakukan pada warga negara dari lebih dari tiga lusin negara, termasuk Iran.

FIFA sendiri telah menegaskan bahwa mereka “tentu tidak dapat menyelesaikan konflik geopolitik.” Federasi Sepak Bola Iran bahkan sempat mengajukan permohonan untuk memindahkan pertandingan mereka dari Amerika Serikat ke Meksiko karena masalah politik dan keamanan, meskipun FIFA dilaporkan menolak usulan tersebut dan menyatakan jadwal pertandingan tetap seperti yang diumumkan.

Dampak Ekonomi dan Perubahan Pola Perjalanan

Dampak ekonomi dari ketegangan geopolitik juga terasa, termasuk inflasi, fluktuasi mata uang, dan kenaikan biaya perjalanan akibat gangguan rantai pasokan dan harga energi. Hal ini mendorong wisatawan untuk lebih berhati-hati dan mencari nilai yang sepadan dengan uang yang mereka keluarkan.

Di Indonesia, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana telah menyiapkan lima strategi untuk menghadapi dampak geopolitik, termasuk diversifikasi pasar ke kawasan Asia, optimalisasi penerbangan langsung, penguatan promosi digital, peningkatan wisatawan domestik, serta penyelenggaraan acara di wilayah perbatasan. Ini dilakukan mengingat gangguan di Timur Tengah berpotensi menurunkan kunjungan wisatawan mancanegara hingga 5.500 orang per hari, dengan potensi kehilangan devisa mencapai Rp184,8 miliar per hari.

Di tengah semua tantangan ini, minat terhadap tetap tinggi. Permintaan tiket dilaporkan melebihi kuota hingga lebih dari 30 kali lipat, meskipun harga tiket pertandingan pembuka bisa mencapai hampir 900 dolar AS. Industri perjalanan juga melihat peningkatan permintaan untuk asuransi perjalanan yang mencakup risiko politik, serta pergeseran menuju pemesanan di menit-menit terakhir sebagai strategi lindung nilai terhadap ketidakpastian.

Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian besar bagi ketahanan industri pariwisata dan kemampuan negara-negara tuan rumah untuk mengelola acara berskala global di tengah iklim geopolitik yang semakin tidak stabil.