Ketegangan Iran-AS Memuncak, Selat Hormuz Jadi Titik Krusial di Tengah Ancaman Perang

Author Image

Bejo

21 Februari 2026

iran, amerika serikat, israel, selat hormuz, konflik timur tengah

Situasi di Timur Tengah memanas secara signifikan pada Februari 2026, ditandai dengan eskalasi ketegangan antara di satu sisi, serta (AS) dan di sisi lain. Kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala besar semakin menguat, terutama setelah serangkaian manuver militer dan retorika keras dari semua pihak yang terlibat.

Israel dilaporkan tengah mempersiapkan diri untuk kemungkinan perang dengan Iran dalam beberapa hari mendatang. Sementara itu, AS telah mengerahkan kekuatan militer besar-besaran ke kawasan Teluk Persia, mencakup dua kapal induk, 12 kapal perang, ratusan jet tempur, dan sistem pertahanan udara. Presiden AS Donald Trump bahkan mengeluarkan ultimatum kepada Iran, memberikan waktu 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya, dengan ancaman “hal-hal yang sangat buruk” jika gagal.

Manuver Militer dan Ancaman Penutupan Selat Hormuz

Menanggapi tekanan ini, Iran merespons dengan serangkaian latihan militer besar-besaran. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan kesiapan untuk menguasai atau menutup “sesegera mungkin”. Selat Hormuz, jalur sempit di mulut Teluk Persia, merupakan koridor vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya. Pada 17 Februari 2026, Iran bahkan melakukan penutupan sementara sebagian Selat Hormuz sebagai bagian dari latihan “keamanan dan keselamatan maritim”.

Langkah ini segera memicu lonjakan harga minyak global. Harga minyak mentah Brent tercatat mencapai US$71,91 per barel pada 19 Februari 2026, level tertinggi sejak Juli 2025. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyatakan bahwa pemerintah Indonesia mencermati perkembangan ini dan menilai dampak ke Indonesia akan bergantung pada durasi serta skala gangguan distribusi energi. “Semua masih wait and see (sementara). Jika ditutup permanen atau lebih lama maka pengiriman impor energi memang akan lebih mahal dan lebih lama,” ujar Haryo.

Di tengah ketegangan ini, Angkatan Laut Iran dan Rusia juga menggelar latihan gabungan di Laut Oman dan Samudra Hindia bagian utara pada 19 Februari 2026. Laksamana Muda Shahram Irani, Komandan Angkatan Laut Angkatan Bersenjata Iran, menegaskan bahwa negaranya siap menghadapi serangan potensial AS dengan “kekuatan yang lebih besar”.

Konflik Israel-Palestina dan Upaya Perdamaian

Selain ketegangan Iran-AS, konflik Israel-Palestina juga terus menjadi sorotan. Pada 20 Februari 2026, tentara Israel menangkap 14 warga Palestina dalam serangkaian penggerebekan di berbagai wilayah Tepi Barat. Penangkapan harian ini terus berlangsung di tengah eskalasi yang menyasar pemuda dan mahasiswa, terutama selama bulan Ramadan.

Di sisi diplomatik, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dewan Perdamaian (Board of Peace) diadakan, di mana Presiden AS Donald Trump menguraikan visi masa depan cerah untuk Gaza. Ia menjanjikan sumbangan USD 10 miliar kepada dewan tersebut dan pengerahan ribuan pasukan perdamaian ke Gaza. Namun, utusan Negara Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, menyuarakan pandangan berbeda, menyatakan bahwa “penderitaan rakyat Palestina masih jauh dari berakhir” dan Israel tidak menginginkan gencatan senjata.

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, dalam pidatonya di forum Dewan Keamanan PBB di New York pada 18 Februari 2026, menegaskan pentingnya kerja Dewan Keamanan PBB dan Board of Peace yang saling memperkuat untuk mewujudkan perdamaian di Palestina. “Pendekatan Board of Peace yang tidak sejalan dengan PBB justru akan melemahkan kredibilitas dan pengaruh dari dewan itu sendiri,” tegas Sugiono.

Dampak Ekonomi Global

Ekonom Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) sekaligus Chief Economist Bank UOB, Enrico Tanuwidjaja, menyoroti ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebagai salah satu tantangan utama yang menghantui kondisi ekonomi global pada 2026. Ketidakpastian ini dapat memicu tekanan inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi negara-negara importir energi. Lonjakan harga minyak akibat gangguan pasokan dari Selat Hormuz juga berpotensi memicu kekhawatiran inflasi yang lebih luas.