Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu gejolak di pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mendorong investor global untuk beralih ke aset yang lebih aman, menyebabkan tekanan jual signifikan pada Surat Utang Negara (SUN) Indonesia.
Sentimen risk-off ini terlihat jelas dari pergerakan pasar obligasi domestik. Pada akhir Januari 2026, investor non-residen tercatat melakukan penjualan neto SUN senilai Rp 2,77 triliun. Tren ini berlanjut hingga Februari 2026, di mana investor asing mencatatkan jual neto sebesar Rp 7,5 triliun pada periode 9-11 Februari 2026. Akibatnya, imbal hasil (yield) SUN 10 tahun sempat bergerak naik, dengan proyeksi di kisaran 6,35-6,55% pada pekan kedua Februari 2026, meningkat dari level awal tahun sekitar 6,1%.
Dampak Konflik dan Pelemahan Rupiah
Memanasnya situasi di Timur Tengah, termasuk kekhawatiran akan gangguan di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak dan gas global, telah memicu lonjakan harga komoditas energi. Kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent melonjak hampir 3% pada awal Maret 2026. Hal ini berpotensi menyebabkan inflasi impor di Indonesia melalui kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), transportasi, dan logistik pangan.
Selain itu, volatilitas nilai tukar rupiah juga menjadi sorotan. Pada 26 September 2025, rupiah melemah ke level Rp16.741 per dolar AS, didorong oleh aksi jual asing di pasar SBN yang mencapai Rp 40 triliun sepanjang September 2025 dan penguatan indeks dolar AS (DXY). Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, pada 28 Februari 2026, menyatakan bahwa ketidakpastian geopolitik menjadi katalis utama penguatan harga emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) dan menekan nilai tukar rupiah. Dalam kondisi ini, Bank Indonesia cenderung memprioritaskan stabilitas nilai tukar dibandingkan pelonggaran suku bunga.
Proyeksi Pasar dan Tantangan Fiskal
Meskipun tekanan jual asing terasa, beberapa analis masih melihat prospek positif untuk pasar obligasi Indonesia di tahun 2026. Head of Fixed Income Analyst Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, pada 9 Desember 2025, memproyeksikan bahwa imbal hasil obligasi 10 tahun masih berpotensi turun ke 6%, meskipun penurunannya tidak akan seagresif tahun 2025. Senada, Pefindo pada 19 Januari 2026, memperkirakan imbal hasil SBN 10 tahun akan menurun menuju 5,8% pada akhir 2026, didukung oleh kebijakan akomodatif Bank Indonesia dan meredanya tekanan inflasi.
Namun, tantangan tetap ada. Defisit APBN 2025 yang melebar menjadi 2,92% dari PDB, melampaui target pemerintah sebesar 2,78%, menjadi perhatian investor. Selain itu, penurunan prospek peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Investors Service dari stabil menjadi negatif pada Februari 2026 juga menambah sentimen negatif di pasar. Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto, menilai tekanan jual asing ini bersifat jangka pendek dan pasar diperkirakan akan lebih kondusif pada Maret hingga April 2026.
Pemerintah sendiri akan menggelar lelang SUN pada 3 Maret 2026 dengan target indikatif Rp33 triliun. Lelang ini akan menjadi barometer daya serap pasar di tengah ketidakpastian global dan sentimen risk-off yang masih membayangi.