Pasar Surat Utang Negara (SUN) Indonesia mengalami tekanan jual signifikan pada Senin, 2 Maret 2026, menyusul eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik terbuka antara aliansi Amerika Serikat-Israel dengan Iran memicu sentimen penghindaran risiko (risk-off) di pasar negara berkembang, mendorong investor melepas aset berisiko dan beralih ke aset aman (safe haven).
Akibatnya, imbal hasil (yield) SUN melonjak di hampir semua tenor, mengindikasikan penurunan harga obligasi karena minimnya permintaan atau tekanan jual. Yield tenor 1 tahun naik 3,7 basis poin (bps) menjadi 5,13%, sementara tenor 4 tahun meningkat 3,8 bps menjadi 5,78%. Tenor 2 tahun juga tidak luput dari kenaikan, bertambah 1,9 bps menjadi 5,12%.
Dampak Geopolitik pada Pasar Keuangan Domestik
Kenaikan imbal hasil juga terlihat pada tenor menengah hingga panjang. Tenor 6-10 tahun bergerak di rentang 6,03% hingga 6,44%, sedangkan tenor 15 tahun berada di 6,6% dan tenor 20 tahun naik menjadi 6,64%. Kondisi ini mencerminkan tingginya premi risiko jangka panjang yang diminta investor di tengah ketidakpastian global.
Selain pasar obligasi, nilai tukar Rupiah juga turut tertekan. Pada pembukaan perdagangan Senin pagi, Rupiah melemah 0,34% ke level Rp16.828 per dolar AS, dan terus menyusut menjadi Rp16.834 per dolar AS pada pukul 09:53 WIB. Pelemahan ini sejalan dengan pergerakan mata uang regional yang terdampak sentimen global.
Eskalasi konflik di Timur Tengah semakin memanas setelah serangan udara besar-besaran oleh AS dan Israel terhadap kota-kota di Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas Iran dengan rudal dan drone. Ketidakpastian geopolitik semakin diperparah dengan laporan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 1 Maret 2026.
Resiliensi Domestik dan Antisipasi Lelang SUN
Analis pasar modal, termasuk Founder Republik Investor Hendra Wardana, mengingatkan bahwa konflik ini bukan hanya isu politik, melainkan telah menjadi risiko ekonomi global yang memicu pola risk-off. Jika eskalasi mengganggu Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia, harga minyak global dapat melonjak hingga US$108 per barel, memicu inflasi global dan memengaruhi kebijakan suku bunga.
Meskipun demikian, pasar obligasi Indonesia menunjukkan resiliensi berkat dominasi investor domestik. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa pasar bergerak dengan sikap “cautiously optimistic” atau waspada namun tetap optimis. Struktur kepemilikan SUN yang kini lebih didominasi investor domestik membuat pasar obligasi Indonesia lebih tangguh dibandingkan saat porsi asing masih besar. Kepemilikan asing di SUN Rupiah yang dapat diperdagangkan hanya sekitar 13,21% per 3 Februari 2026, membatasi potensi arus keluar modal besar.
Pemerintah Indonesia sendiri akan menggelar lelang SUN pada Selasa, 3 Maret 2026, dengan target indikatif Rp33 triliun untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN 2026. Instrumen yang ditawarkan mencakup Surat Perbendaharaan Negara (SPN) tenor pendek dan obligasi negara (FR) tenor menengah hingga panjang, dengan jatuh tempo mulai 2031 hingga 2064.
Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui intervensi di pasar domestik maupun luar negeri, termasuk melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, pada 14 Januari 2026, menyampaikan bahwa BI konsisten menjaga stabilitas Rupiah. Selain itu, BI juga telah menyiapkan strategi baru untuk memantau modal asing mulai Maret 2026.