Ketika ‘Bridgerton’ Kehilangan Arah: Representasi Ras dan Identitas yang Kian Dangkal

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

Serial drama periode Netflix, ‘Bridgerton’, yang dikenal luas karena alur cerita romantisnya dan latar era Regency yang mewah, kini menghadapi gelombang kritik tajam. Apa yang awalnya dipuji sebagai terobosan dalam representasi rasial, kini dinilai telah kehilangan arah, bergeser dari konsep revolusioner menjadi sekadar estetika belaka.

Awal yang Menjanjikan dan Pujian atas Keberagaman

Sejak debutnya pada tahun 2020, ‘Bridgerton’ dengan cepat meraih popularitas global, menjadi salah satu serial paling banyak ditonton di Netflix. Salah satu daya tarik utamanya adalah pendekatan ‘color-conscious casting’ yang berani, menampilkan bangsawan kulit hitam di London era Regency. Langkah ini dipandang sebagai angin segar dalam genre drama periode yang seringkali didominasi oleh pemeran kulit putih, menawarkan visi dunia yang lebih inklusif dan beragam.

Banyak kritikus dan penonton awalnya memuji serial ini karena keberaniannya dalam menghadirkan keragaman rasial, seperti karakter Ratu Charlotte dan Duke of Hastings yang diperankan oleh aktor kulit hitam. Hal ini menciptakan ekspektasi bahwa ‘Bridgerton’ tidak hanya akan menyajikan romansa yang memikat, tetapi juga eksplorasi mendalam tentang implikasi sosial dan historis dari keberagaman tersebut dalam masyarakat fiksi yang diciptakannya.

Kritik atas Representasi yang Kian Dangkal

Namun, seiring berjalannya musim, nada pujian mulai berubah menjadi pertanyaan dan kritik. Beberapa analisis terbaru menunjukkan bahwa pendekatan serial terhadap isu ras dan identitas telah menjadi lebih dangkal, bahkan disebut sebagai ‘hollow diversity’ atau keberagaman yang hampa. Sebuah artikel opini dari The New York Times pada 25 Februari 2026, secara spesifik menyoroti bagaimana ‘Bridgerton’ dinilai telah ‘kehilangan arah’ dalam penanganan ras dan identitas.

Kritikus berpendapat bahwa serial ini gagal untuk secara substantif mengeksplorasi realitas sejarah dan sosial ras, bahkan dalam kerangka fiksi fantasi yang diusungnya. Alih-alih mendalami kompleksitas dan dinamika yang mungkin timbul dari masyarakat yang beragam secara rasial di era tersebut, ‘Bridgerton’ dituduh mereduksi keragaman menjadi sekadar elemen visual atau ‘window dressing’. Ini menimbulkan kekecewaan di kalangan penonton yang merasa janji awal untuk eksplorasi identitas yang terintegrasi belum sepenuhnya terwujud di musim-musim berikutnya.

Pendekatan ‘colorblind casting’ yang diterapkan oleh serial ini, meskipun bertujuan baik untuk menciptakan dunia tanpa batasan ras, justru dipertanyakan apakah pada akhirnya melemahkan potensi untuk komentar yang lebih mendalam tentang isu-isu sistemik. Ada kekhawatiran bahwa jika perbedaan rasial tidak diakui, dihormati, atau diapresiasi secara naratif, maka keberagaman itu sendiri menjadi kurang bermakna.

Kontroversi Terbaru dan Stereotip

Perdebatan mengenai representasi ini semakin memanas dengan munculnya kontroversi baru. Yerin Ha, aktris Korea-Australia yang menjadi bintang utama romantis di ‘Bridgerton Season 4’, diduga mengalami diskriminasi dalam materi promosi serial tersebut. Insiden ini mencakup kesalahan penulisan namanya dan minimnya kemunculannya dalam bingkai foto atau video promosi, terutama saat acara di Spanyol. Hal ini memicu kecaman dari penggemar dan kembali mengangkat isu rasisme serta representasi dalam industri hiburan.

Selain itu, kritik juga menyasar penggunaan stereotip dalam penggambaran karakter. Beberapa penonton menyoroti bagaimana karakter dari kelas bawah seringkali digambarkan dengan aksen tertentu yang di Inggris sering dikaitkan dengan kurangnya kecerdasan atau keterampilan, sementara karakter kelas atas berbicara dengan logat ‘Received Pronunciation’. Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana serial ini memilih untuk menonjolkan perbedaan kelas melalui aksen, namun mengabaikan potensi eksplorasi perbedaan rasial yang lebih kaya.

Masa Depan Representasi ‘Bridgerton’

Sebagai waralaba multi-seri yang terus berkembang di Netflix, ‘Bridgerton’ memiliki platform besar untuk membentuk narasi tentang ras dan identitas. Penting bagi serial ini untuk menganalisis diskursus seputar ras yang diperpetuasi dan potensi dampaknya dalam memperkuat stereotip atau misrepresentasi komunitas terpinggirkan. Desakan dari penggemar dan kritikus agar serial ini mengevaluasi ulang pilihan naratifnya demi eksplorasi identitas yang lebih berdampak dan bijaksana menjadi semakin relevan. Jika tidak, ‘Bridgerton’ berisiko kehilangan esensi revolusionernya dan hanya akan dikenang sebagai drama periode dengan keberagaman yang indah di permukaan, namun dangkal di kedalaman.