Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 ke berbagai situs di Iran, yang dikabarkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Operasi militer yang diberi sandi “Roaring Lion” oleh Israel dan “Operation Epic Fury” oleh Amerika Serikat ini menargetkan pejabat kunci, komandan militer, serta fasilitas penting dengan tujuan menggulingkan rezim Iran.
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) segera melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai negara Timur Tengah, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Arab Saudi, Irak, dan Oman. Eskalasi konflik ini telah memicu kekhawatiran global, terutama terkait keamanan jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya
Menyusul serangan tersebut, Garda Revolusi Iran dilaporkan telah memperingatkan kapal tanker di Selat Hormuz bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas. Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran mengenai penutupan total, perusahaan pelayaran besar seperti Maersk, MSC Mediterranean Shipping, Hapag-Lloyd, dan CMA CGM telah menangguhkan atau mengubah rute pelayaran mereka. Ratusan kapal juga dilaporkan mencari perlindungan di perairan terbuka.
Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center) telah meningkatkan tingkat ancaman regional menjadi KRITIS, memperingatkan bahwa “serangan hampir pasti terjadi.” Selat Hormuz, yang terletak antara Iran dan Oman, merupakan jalur sempit strategis yang sangat krusial bagi pasar energi global. Diperkirakan 20 hingga 30 persen minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia yang diperdagangkan melalui laut melintasi selat ini setiap harinya. Lebar selat yang hanya sekitar 50 kilometer dan kedalaman dangkal menjadikannya rentan untuk ditutup secara militer.
Iran telah berulang kali mengancam akan menutup selat ini di masa krisis. Pada Januari 2026, seorang komandan angkatan laut senior Garda Revolusi Iran kembali menegaskan ancaman tersebut. Bahkan, pada Februari 2026, IRGC telah melakukan latihan militer angkatan laut di Selat Hormuz, termasuk penutupan sementara sebagian jalur perairan.
Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Kekhawatiran Ekonomi
Dampak langsung dari ketegangan ini terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent, yang sebelumnya berada di kisaran 67-72 dolar AS per barel, kini melonjak hingga sekitar 80 dolar AS per barel. Para analis memperkirakan harga dapat menembus 100 dolar AS per barel jika penutupan Selat Hormuz berlanjut atau eskalasi konflik memburuk.
Penutupan penuh selat ini diperkirakan dapat mengganggu sekitar seperlima dari perdagangan minyak global dalam semalam, memicu lonjakan harga yang tajam dan drastis. Jika gangguan berlangsung lama, pasokan minyak mentah global dapat berkurang 8 hingga 10 juta barel per hari. Lonjakan harga minyak ini berpotensi memicu inflasi global dan mempersulit bank sentral untuk memangkas suku bunga. Biaya asuransi untuk kapal yang melintasi area tersebut juga telah meningkat signifikan, dengan premi tambahan mencapai 300-500 persen.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC+) telah menyepakati peningkatan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April 2026, namun jumlah ini dinilai terlalu kecil untuk mengimbangi potensi gangguan besar. China, sebagai salah satu pendukung utama Iran, mengimpor lebih dari 90 persen ekspor minyak Iran, sehingga juga akan sangat terdampak oleh situasi ini.
Latar Belakang Geopolitik
Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah meningkat sejak serangan 7 Oktober 2023 di Israel dan pecahnya perang Gaza. Amerika Serikat dan Israel sebelumnya telah menargetkan fasilitas nuklir, situs militer, dan infrastruktur rezim Iran dalam konflik pada tahun 2024 dan 2025.
Presiden AS Donald Trump, yang kembali menjabat pada Januari 2025, menyerukan rakyat Iran untuk “mengambil kembali negara mereka” setelah serangan 28 Februari. Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran telah memperingatkan pada Februari 2026 bahwa jika perang terjadi, keamanan energi akan terancam dan Selat Hormuz akan ditutup, dengan China menjadi negara pertama yang dirugikan.