Khamenei Tewas, Konflik AS-Israel-Iran Picu Lonjakan Harga Minyak dan Emas

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas secara drastis menyusul serangan udara dan rudal gabungan (AS) dan terhadap pada Sabtu, 28 Februari 2026. Operasi militer yang diberi nama sandi “Operation Lion’s Roar” oleh Israel dan “Operation Epic Fury” oleh Departemen Pertahanan AS ini menargetkan pangkalan militer, fasilitas pertahanan, serta struktur kepemimpinan Iran.

Insiden paling signifikan dari serangan tersebut adalah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di kediamannya, bersama dengan anggota keluarganya. Kematian Khamenei telah dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran, memicu respons balasan besar-besaran dari Teheran.

Iran Balas Serangan, Selat Hormuz Ditutup

Sebagai respons, Iran melancarkan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, serta negara-negara sekutu di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Irak, Yordania, dan Arab Saudi. Serangan balasan Iran juga dilaporkan menghantam kawasan Tel Aviv di Israel, menyebabkan korban jiwa dan luka di kalangan warga sipil.

Dampak konflik meluas hingga insiden yang memengaruhi fasilitas penerbangan sipil, seperti bandara internasional di Dubai dan Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, yang mengalami kerusakan dan menyebabkan ribuan penerbangan terhenti. Lebih lanjut, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pasca-kematian Khamenei. Selat ini merupakan jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20 persen produksi minyak global, menjadikannya titik rawan terpenting bagi perdagangan minyak dunia.

Harga Minyak Dunia Melonjak, Emas Jadi Buruan

Eskalasi konflik ini segera memicu gejolak di pasar komoditas global. mentah diperkirakan melonjak tajam karena kekhawatiran akan memburuknya perang AS-Iran dan potensi gangguan pasokan yang signifikan. Pada Senin, 2 Maret 2026, kontrak berjangka minyak Brent dibuka 13 persen lebih tinggi pada USD 82,0 per barel. Sebelumnya, harga minyak mentah AS (WTI) ditutup pada USD 67,02 per barel pada Jumat, 28 Februari, setelah naik 17 persen sepanjang tahun ini, sementara Brent mencapai USD 73,21 per barel, naik 20 persen.

Analis UBS, Henri Patricot, menyatakan bahwa laju pemulihan lalu lintas melalui Selat Hormuz dan tingkat pembalasan Iran akan menjadi kunci bagi pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan. Penutupan Selat Hormuz dapat berdampak besar pada pasokan minyak global, memicu kenaikan harga dan mengganggu ekonomi dunia.

Di sisi lain, emas kembali menjadi aset lindung nilai (safe haven) yang paling dicari investor di tengah ketidakpastian global. Harga emas dunia ditutup pada level USD 5.280 per ons troi pada Jumat, 28 Februari. Pengamat komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas dunia dapat menembus USD 6.000 per ons troi pada Maret 2026.

Untuk emas Antam di pasar domestik, harganya tercatat Rp 3.085.000 per gram pada Senin, 2 Maret 2026. Ibrahim Assuaibi juga memprediksi harga emas Antam berpotensi mencapai Rp 3.150.000 per gram pada awal pekan ini, dan bahkan bisa menyentuh Rp 3.400.000 per gram jika eskalasi konflik terus berlanjut. Angka ini akan menjadi rekor tertinggi baru bagi emas Antam, melampaui rekor sebelumnya Rp 3.168.000 per gram pada 29 Januari 2026.

Saham Pelayaran dan Dampak Ekonomi Indonesia

Sektor saham pelayaran juga diperkirakan akan mengalami penguatan. Sebelumnya, saham-saham pelayaran telah menunjukkan lonjakan signifikan di awal tahun 2026, didorong oleh peningkatan permintaan dan dinamika komoditas energi. Namun, analis juga mengingatkan bahwa normalisasi tensi geopolitik atau masuknya pasokan kapal baru berpotensi menekan tarif sewa dan profitabilitas di masa mendatang.

Bagi Indonesia, dampak konflik ini dinilai lebih besar melalui kanal energi dan keuangan dibandingkan perdagangan langsung. Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, memperkirakan harga minyak WTI bisa mencapai USD 65-70 per barel dalam skenario moderat, atau di atas USD 70 per barel dalam skenario terburuk. Kenaikan harga minyak berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta memicu inflasi barang di dalam negeri. Selain itu, nilai tukar rupiah terancam melemah, bahkan berpotensi mencapai Rp 17.000 per dolar AS apabila ketegangan terus meningkat.