Ketegangan di perbatasan Pakistan dan Afghanistan memuncak pada Jumat, 27 Februari 2026, setelah Pakistan melancarkan serangan udara ekstensif ke beberapa provinsi di Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul. Aksi militer ini merupakan respons balasan atas serangkaian serangan teror di wilayah Pakistan. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, bahkan secara tegas menyatakan bahwa negaranya kini berada dalam “perang terbuka” dengan pemerintahan Taliban Afghanistan.
Eskalasi terbaru ini menyusul serangan udara awal yang dilakukan Pakistan pada 21-22 Februari 2026, menargetkan tujuh kamp militan yang diduga berada di provinsi Nangarhar, Paktika, dan Khost, Afghanistan. Islamabad beralasan, serangan tersebut merupakan pembalasan atas gelombang aksi terorisme di Pakistan, termasuk bom bunuh diri di sebuah masjid Syiah di Islamabad pada 6 Februari yang menewaskan 31 hingga 36 orang, serta serangan di Bajaur dan Bannu yang menewaskan 11 tentara dan seorang anak. Pakistan menuduh kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dan Islamic State – Khorasan Province (ISKP) beroperasi dari wilayah Afghanistan.
Sebagai tanggapan, Afghanistan melancarkan “operasi ofensif berskala besar” terhadap pos-pos militer Pakistan di sepanjang Garis Durand pada Kamis malam, 26 Februari 2026. Operasi balasan Afghanistan ini kemudian dijawab oleh Pakistan dengan meluncurkan serangan udara lebih lanjut pada Jumat dini hari, 27 Februari, yang dinamai “Operasi Ghazab Lil Haq” (Kemarahan demi Kebenaran atau Murka yang Benar).
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menegaskan sikap negaranya melalui platform X, menyatakan, “Kesabaran kami telah mencapai batasnya. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan Anda.” Pakistan mengklaim serangan mereka menewaskan 133 pejuang Taliban Afghanistan dan melukai lebih dari 200 lainnya. Selain itu, 27 pos Taliban dilaporkan hancur dan sembilan lainnya berhasil direbut, dengan lebih dari 80 tank, artileri, dan kendaraan lapis baja dihancurkan.
Namun, klaim korban jiwa dari kedua belah pihak sangat kontradiktif. Juru bicara pemerintah Taliban Afghanistan, Zabihullah Mujahid, awalnya menyatakan tidak ada korban jiwa dari serangan udara Pakistan pada 27 Februari. Namun, Kementerian Pertahanan Afghanistan kemudian melaporkan 55 tentara Pakistan tewas dan 19 pos direbut dalam operasi balasan mereka. Pihak Afghanistan juga menuduh serangan awal Pakistan pada 21-22 Februari menewaskan sedikitnya 18 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, di provinsi Nangarhar dan Paktika.
Hubungan antara Pakistan dan Afghanistan telah memburuk secara signifikan sejak Taliban kembali berkuasa pada tahun 2021. Islamabad secara konsisten menuduh Kabul gagal menindak kelompok militan yang menggunakan wilayah Afghanistan sebagai basis untuk melancarkan serangan di Pakistan, tuduhan yang dibantah oleh pemerintah Taliban. Sebuah gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar dan Turki, yang disepakati setelah bentrokan mematikan pada Oktober 2025 yang menewaskan lebih dari 70 orang di kedua sisi, hanya bertahan sekitar empat bulan sebelum runtuh.
Meningkatnya konflik ini telah menarik perhatian internasional. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mendesak kedua belah pihak untuk melindungi warga sipil dan mencari solusi melalui dialog. Sementara itu, Tiongkok, Rusia, dan Iran telah menyatakan keprihatinan dan menawarkan diri untuk menjadi mediator dalam konflik tersebut. India juga mengutuk serangan udara Pakistan di wilayah Afghanistan, menegaskan dukungan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Afghanistan.