Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan memuncak pada Jumat, 27 Februari 2026, setelah Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Mohammad Asif, secara resmi mendeklarasikan “perang terbuka” terhadap pemerintahan Taliban di Afghanistan. Pernyataan ini menyusul serangkaian serangan lintas batas yang intens, menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Asif menyampaikan deklarasi tersebut melalui media sosial, menegaskan bahwa kesabaran Islamabad telah mencapai batasnya. “Kesabaran kami sudah habis. Sekarang ini perang terbuka antara kami dan kalian,” ujar Khawaja Asif. Deklarasi ini muncul setelah Pakistan melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah di Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul, Kandahar, dan Provinsi Paktia, pada Jumat dini hari.
Operasi Militer dan Saling Klaim Korban
Serangan udara Pakistan, yang diberi nama “Operasi Ghazab Lil-haq” atau “Kemarahan untuk Kebenaran,” menargetkan instalasi militer Taliban. Menurut klaim militer Pakistan yang disampaikan oleh Juru Bicara Perdana Menteri Mosharraf Zaidi dan Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry, operasi tersebut menewaskan antara 133 hingga 297 kombatan Taliban dan menghancurkan puluhan pos pemeriksaan Afghanistan. Pakistan juga melaporkan kehilangan dua hingga dua belas tentaranya dalam konflik tersebut.
Di sisi lain, juru bicara pemerintah Taliban Afghanistan, Zabihullah Mujahid, mengonfirmasi adanya serangan Pakistan namun membantah adanya korban jiwa di pihak mereka. Taliban justru mengklaim telah melancarkan operasi balasan yang menewaskan 55 tentara Pakistan dan merebut 19 pos militer. Kementerian Pertahanan Afghanistan bahkan menyebut 40 tentara Pakistan tewas dalam serangan balasan. Angka-angka korban dari kedua belah pihak belum dapat diverifikasi secara independen.
Akar Konflik dan Latar Belakang Ketegangan
Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan telah memburuk sejak Taliban kembali berkuasa di Kabul pada Agustus 2021. Islamabad menuduh pemerintah Taliban melindungi kelompok militan Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) dan kelompok bersenjata lainnya yang melancarkan serangan di wilayah Pakistan, sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh Kabul. Perselisihan juga berpusat pada Garis Durand, perbatasan sepanjang 2.670 kilometer yang tidak diakui secara resmi oleh Afghanistan sejak ditetapkan oleh Inggris pada tahun 1893.
Sebelum eskalasi terbaru ini, kedua negara sempat mencapai gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar dan Turki pada Oktober 2025 setelah bentrokan mematikan. Namun, beberapa putaran perundingan damai di Istanbul pada November 2025 gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang, dan insiden-insiden kecil terus berlanjut.
Respons Internasional dan Dampak Ekonomi
Meningkatnya konflik ini telah memicu kekhawatiran internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan de-eskalasi segera, sementara Amerika Serikat menyatakan dukungan terhadap hak Pakistan untuk mempertahankan diri. Negara-negara regional seperti Tiongkok dan Iran juga menyerukan dialog dan pengelolaan perbedaan dalam kerangka hubungan bertetangga yang baik. Mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai menegaskan bahwa rakyat Afghanistan akan mempertahankan tanah air mereka dengan persatuan penuh.
Secara militer, Pakistan memiliki keunggulan signifikan dengan lebih dari 600.000 personel aktif, lebih dari 400 pesawat tempur, dan status sebagai negara bersenjata nuklir, jauh melampaui kekuatan militer Afghanistan yang diperkirakan memiliki 172.000 personel tanpa jet tempur efektif. Dampak ekonomi dari konflik ini juga mulai terasa, dengan obligasi dolar Pakistan dilaporkan anjlok pada Jumat, 27 Februari 2026.